May
31
2015
0

C Wright Mills: The Sosiological Imagination

 Dengan imajinasi sosiologis seseorang dapat memahami pandangan historis yang lebih luas; dari segi pengertiannya terhadap hakikat kahidupan (inner life) dan kebutuhan kehidupan (external career) berbagai individu. Dengan menggunakan itu dia dapat melihat bagaimana individu-individu, dalam keruwetan pengalaman sehari-harinya sering mengisruhkan posisi sosial mereka. Dalam keruwetan itu dicari kerangka masyarakat modern dan dalam kerangka demikian psikologi berbagai manusia dirumuskan. Dengan sarana-sarana itu kegelisahan pribadi para individu dipusatkan pada kesulitan-kesulitan eksplisit dan kesamaan-kesamaan publik diubah menjadi keterlibatan dengan isu publik.

Demikian sebuah kutipan Mills yang sedikit mengungkapkan teorinya tentang psikologi sosial akibat kegelisahan dan problem individu yang sedang di hadapi sehingga mempengaruhi keadaan sosial yang ada dalam masyarakat. Di lain pihak keadaan struktur dalam lembaga atau organisasi masyarakat berada dalam keadaan kurang stabil sebagai akibat dari konstelasi konflik kepentingan yang berkepanjangan.

Keadaan yang kurang kondusif dalam masyarakat dinilai sebagai pengaruh atau disebabkan oleh keadaan individu yang sedang gelisah/berada dalam tekanan dan keruwetan pengalaman yang dihadapi. Disamping itu ada dua model identifikasi penelitian sosiologis yang kemudian di sintesisikan oleh Mills yang disebut Imajinasi Sosiologis. Imanjinasi Sosiologis ini gabungan dari dua penelitian yang diidentifikasikan oleh Mills Makroscopik dan Molekular. Makroskopik, behubungan dengan keseluruhan struktur sosial dalam cara perbandingan; beruang lingkup sama dengan ruang lingkup ahli sejarah dunia, mencoba menampilkan tipe-tipe fenomena historis, dan secara sistematis menghubungkan berbagai lingkungan institusional masyarakat yang kenudian dikaitkan dengan tipe-tipe manusia yang ada. Molekular, ditandai dengan masalah-masalah berskala kecil dengan kebiasaan menggunakan model verifikasi statistik.

Imajinasi sosiologi merupakan kemampuan untuk mengkap sejarah dan biografi serta daya gunanya dalam masyarakat. Mills menambahkan pada tekanan sosial psikologis terletak di dimensi sejarah dan kesadaran akan pengaruh kekuasaan terhadap struktur sosial. Kepercayaan terhadap kebebasan manusia untuk mengubah sejarah, menyebabkan dia menuntut pembaharuan sosiologi yang bermanfaat bagimasyarakat.  Psikologi Sosial Mills didasarkan atas kecenderungan individu untuk terlibat dalam masyarakat dan struktur sosial dan lembaga-lembaga sosial yang ada. Individu diasumsikan mampu untuk merubah pola-pola yang ada dalam struktur dengan kesadaran sejarah atau pengalaman yang ia refleksikan dalam kehidupanya. Artinay bahwa kebebasan individu dan kesadarannya pada masyarakat dan lembaga ditentukan oleh tingkah laku individu yang sedang dalam keadaan goncang atau kerumitan yang ia alami di lingkungannya. Sementara itu kekuasaan yang ada dalam lembaga tertentu di senantiasa berada dalam tingkat konflik yang terus berkepanjangan antara individu yang mempunyai tingkat sejarah dan pengalaman berbeda dalam refleksi problemnya, sehingga kekacauan yang ada dilembaga terletak pada individu itu sendiri yang mampu merubah dan menggeser struktur yang telah ada. Kerumitan dan kegoncangan yang telah ada pada masing-masing individu menjadi titik temu yang signifikan dalam perubahan lembaga tersebut.

Menurut Mills, manusia sering tidak rasional karena hanya tanggap pada impuls, slogan politik, status, simbol, dan sebagainya. Dan tugas sosiologi adalah mengungkapkan hal-hal yang tidak rasional ini. Dalam konteks inilah Mills menulis berbagai macam karangan mengenai politik dan kekuasaaan, melakukan studi mengenai White Collar Workers, dan menulis risalah tentang para pemegang kekuasaan. Studi tentang White Collar Workers (karyawan berkerah putih) di bangun di atas teori alienasi Marx. White Collar Workers adalah elas menengah baru yang tidak diharapkan oleh produsen dan kelas pekerja upahan. Mereka terdiri dari para manajer, buruh upahan, salesman, dan para pekerja kantor. Dan alienasi sendiri menurut Marx bersumber pada terpisahnya seseorang dari produk akhir karyanya.
Sebelum era industrialisasi, pekerja menggunakan peralatan mereka sendiri untuk menghasilkan suatu produk yang utuh seperti kursi atau meja. Sekarang para kapitalis telah mengambil alih kekuatannya (mesin) dan hanya menugaskan pada tiap pekerja satu atau dua langkah dalam seluruh proses produksi. Terbuang ke tugas yang berulang-ulang yang nampak jauh dari produk akhir, para pekerja kehilangan rasa identitas dengan apa yang mereka hasilkan. Mereka menjadi terasing, bukan hanya dari produk mereka tapi juga dari lingkungan kerja mereka. Dengan menggunakan imajinasi sosiologis, White Collar Workers harus ditempatkan dalam masa sejarah disertai dengan pemahaman struktur sosial. Kemudian harus dilakukan usaha-usaha untuk menyatukan analisa psikologis dengan kerangka psikologis dengan kerangka sosiologis struktur sosial ini. Sesuai dengan imajinasi sosiologis, Mills menekankan bahwa White Collar Workers bahkan yang profesional biasanya tidak memiliki kekuatan pribadi untuk mengendalikan hidupnya sendiri dan kekuatan politik untuk membentuk bangsa. Setelah membahas White Collar Worker, Mills membahas tentang Power Elite (elit kekuasaan). Kekuasaan menurut Mills adalah kemampuan melaksanakan kehendak walaupun ada perlawanan. Dan kekuasaan terkonsentrasikan dari segelintir orang, dimana analisisnya kontradiktif dengan ideologi dominan mengenai kesetaraan. Sedangkan elit kekuasaan adalah mereka yang mengambil keputusan-keputusan besar dalam masyarakat. Mills melihat elit kekuasaan sebagai suatu kelas sosial dari orang-orang yang memiliki asal usul dan pendidikan yang sama, yang memiliki dasar-dasar sosial dan psikologis yang menyatukan mereka atas kenyataan bahwa mereka adalah tipe sosial yang serupa dan menjurus pada fakta kemudahan saling berbaur. Mills melakukan riset terhadap struktur kekuasan Amerika yang dari penelitian itu diperoleh suatu hubungan dominatif, dimana stuktur sosial dikuasi elit dan rakyat adalah pihak ada di bawah kontrol politisnya. Hubungan dominatif itu muncul karena elit-elit berusaha memperoleh dukungan politis rakyat demi kepentingan mobilitas vertikal mereka secara ekonomi dan politik. Elit-elit itu adalah militer, politisi, dan para pengusaha (ekonomi).Mills menemukan bahwa mereka, para elit kekuasaan, mempunyai kencederungan untuk kaya, baik diperoleh melalui investasi atau duduk dalam posisi eksekutif. Satu hal penting lagi, mereka yang termasuk dalam elit kekuasaan sering kali pindah dari satu bidang yang posisinya tinggi dalam bidang yang lain.

Mills berpendapat bahwa untuk melakukan imajinasi sosiologi diperlukan pula dua peralatan pokok: apa yang dinamakan personal troubles of milieu dan public issue of social structure.Menurutnnya, troubles (kesusahan) berlangsung dalam ciri individu dan dalam jangkauan hubungan langsungnya dengan orang lain. Trouble merupakan masalah pribadi dan merupakan ancaman terhadap nilai yang didukung pribadi. Issues (isu), dipihak lain, merupakan hal yang berada diluar lingkungan setempat individu dan diluar jangkauan kehidupan pribadinya. Suatu issue merupakan suatu hal yang bersifat umum: suatu nilai yang didukung umum dirasa terancam. Contoh yang disajikan Mills mengenai personal trouble ialah suatu kota berpenduduk 100.000 jiwa yang hanya mempunyai seorang penganggur. Bagi penganggur tersebut, pengangguran merupakan personal trouble, dan untuk mengatasinya kita mempertimbangkan ciri dan keterampilan individu yang bersangkutan serta kesempatan yang terbuka baginya. Namun bilamana dalam suat kota berpenduduk 50 juta jiwa ditemui 15 juta pengangguran, maka menurut Mills, yang kita hadapi ialah suatu issue yang pemecahannya berada di luar ruang lingkup kesempatan yang tersedia bagi masing-masing individu yangbersangkutan.

Imajinasi sosiologis yang memungkinkan kita untuk pegang sejarah dan biografi dan hubungan antara kedua dalam masyarakat. mereka pasti pertanyaan dibangkitkan oleh pikiran yang memiliki imajinasi sosiologis. Untuk itu imajinasi adalah kemampuan untuk berubah dari satu perspektif lain – dari politik ke psikologis; pemeriksaan dari satu keluarga ke komparatif penilaian dari anggaran nasional dunia; dari teologi ke sekolah militer pendirian; dari pertimbangan dari industri minyak studi ke puisi kontemporer. Ini adalah kemampuan untuk mulai dari yang paling adil dan jauh ke dalam Bahasa Inggris yang paling intim fitur dari manusia sendiri – dan untuk melihat hubungan antara keduanya. Kembali dari penggunaannya selalu ada keinginan untuk mengetahui sejarah dan sosial yang berarti masing-masing di masyarakat dan di masa di mana ia memiliki kualitas dan dia sedang.

Menrut teori ini seorang sejarhwan harus menguasai imaginasi sosiologi dalam penelitannya. Dengan menggunakan metode ini para sejarahwan bisa memperkirakan tingkah laku masyarakat pada zaman dahulu. Selain metode ini, sejarahwan ini juga membutuhkn psikologi sosiologi, untuk mengetahui perkembangan watak dan pemikiran para aktos sejarah yang ia teliti.

Karena adanya sebuah imajinasi seorang lebih tertarik akan peristiwa masa lampau. Kertetarikan ini tidak hanya untuk mereka-reka saja, melainkan untuk merekonsrtuksikan kembali kehidupan masyarakat masa lampau kepada masyarakat sekarang ini. Dengan adanya gambaran persitiwa masa lampau tersebut kita bias mengambil pelajaran untuk menempuh masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Ritzer , Goerge. TEORI SOSIOLOGI (Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmoderen), Pustaka Pelajar, YOGYAKARTA, 2012.

Poloma M, Margaret. 1987. Sosiologi Kontemporer. Jakarta : CV Rajawali.

Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

May
31
2015
0

Teori Pertukaran (George Caspar Homans)

Meski menghormati aspek-aspek pemikiran Parsons namun ia juga mengecam gaya pemikiran teoritis Parson. Homans menyatakan bahwa teori Parsons bukan teori sama sekali, tetapi merupakan sistem intelektual yang luas dalam menggolong-golongkan aspek-aspek sosial. Menurut Homans teori Parsons hanya merupakan skema konseptual yang hanya berguna sebagai titik tolak ilmu, karena sebuah teori harus berisi beberapa proposisi.

Homans menolak tipe penjelasan fungsional. Homans memperlihatkan bahwa suatu pola tertentu pada kehidupan masyarakat yang bersifat menguntungkan masyarakat bukan untuk menjelaskan penyebab orang itu menyesuaikan tindakannya terhadap pola tersebut. Penjelasan mengenai perilaku menuntut suatu pemahaman mengenai motif-motif dan perasaan-perasaan manusia dan tidak menyoalkan kebutuhan hipotesis dan tuntutan-tuntutan masyarakatnya. Menurut Homans, nampakanya tidak ada cara untuk menentukan secara definitif apa kebutuhan fungsional itu, terlebih jika kita mengakui bahwa kekurangan yang diciptakan oleh runtuhnya setiap pola institusional biasanya diikuti oleh munculnya institusi-institusi alternatif untuk menggantikan kerusakan itu, sehingga Homans tidak menggunakan penjelasan tipe-fungsional seperti Parsons, karena menurutnya pola-pola pertukaran harus dianalisa menurut motif-motif dan perasaan-perasaan manusia yang terlibat dalam interaksi tersebut.

Banyak ide dasar dalam karya Homans yang juga menyerang intepretasi Levi-Strauss mengenai kebiasaan-kebiasaan perkawinan dalam masyarakat primitif. Hal ini merupakan tema pokok dalam analisis lintas-budaya yang dikemukakan oleh Homans. Levi-Strauss mengemukakan bahwa pola perkawinan, dimana seorang anak mengawini putri saudara Ibunya memberikan sumbangan yang amat besar pada tingkat solidaritas yang tinggi pada masyarakat primitif, dibandingkan dengan seseorang yang mengawini anak dari saudara bapaknya. Alasan Levi-Strauss menjelaskan solidaritas sosial yang lebih tinggi ini adalah bahwa pola yang lebih disukai ini mencakupi pertukaran tidak langsung dari pada pertukaran langsung. Sedangkan Homans memberikan penjelasan yang bersifat Psikologis mengenai pola-pola perkawinan ini. Arahnya adalah ke perasaan-perasaan manusia itu sendiri yang bersifat alamiah (berlawanan dengan determinasi budaya), tidak terhadap integrasi atau solidaritas masyarakat. Tekanan Homans pada penjelasan institusi-institusi sosial di tingkat psikologi individu merupakan pendekatan dasarnya. Homans mengemukakan bahwa alasan sering terjadinya perkawinan dengan anak saudara Ibu hanya karena individu itu secara emosional lebih dekat dengan Ibunya daripada Bapaknya.

Homans mengemukakan bahwa banyak tulisan sosiologis yang sangat abstrak dan sulit untuk melihat hubungan yang jelas dengan data empiris yang didapat dari lapangan. Konsep-konsep sosiologi seperti institusi sosial, peran, kebudayaan, strukutur otoritas, dan status adalah konsep abstrak, bukan konsep yang benar-benar diamati. Akibatnya, sering sulit untuk menghubungkan konsep-konsep teoritis dengan gejala tertentu yang dapat diamati dengan jelas dan tidak ambigu

Teori pertukaran dari homans ini sangat erat kaitannya dengan dunia psikologi manusia. Lebih tepatnya bahwa homans melihat akar dari teori pertukaran adalah behaviorisme yang berpengaruh langsung terhadap sosiologi perilaku. Homans mendasarkan teori pertukaran ini dalam berbagai proporsisi yang fundamental. Meski beberapa proporsisinya menerangkan setidaknya dua individu yang berinteraksi, namun ia dengan sangat hati-hati menunjukan bahwa proporsisi itu berdasarkan  prinsip psikologis. Homans menganggap dirinya adalah seorang reduksionis psikologi ketika pemikirannya tentang proporsisinya yang dikatakan bersifat psikologis tersebut. Menurut Homans, teori pertukaran tesusun kedalam beberapa proporsisi psikologis. Reduksionisme sendiri menurut Homans adalah “proses yang menunjukan bagaimana proporsisi yang disebut satu ilmu (dalam hal ini sosiologi) logikanya berasal dari proporsisi yang lebih umum yang disebut ilmu lain (dalam hal ini psikologi). Mengapa demikian sehingga ia disebut reduksionis psikologi?.

Pertama, proporsisi tersebut biasanya dipergunakan dan telah teruji oleh para ahli yang menamakan dirinya psikolog. Kedua, proporsisi tersebut berkenaan dengan perilaku manusia sebagai individu, bukan manusia sebagai kelompok atau masyarakat.  Atau dalam bahasa ringannya, Homans berpendapat bahwa penjelasan satu individu dapat mewakili penjelasan seluruh kelompok Perilaku sosial menurut Homans merupakan pertukaran aktifitas konkrit maupun tidak, penuh dengan reward atau costly, antara dua orang atau lebih.

Homans sedikit banyak termotivasi ataupun terinspirasi oleh teori struktural – fungsional dari teman dan koleganya yaitu Talcot Parson. Karena itulah saya dapat menuliskan pada awal pembahasan teori pertukaran ini dengan : Prinsip dasar dari teori pertukaran George Caspar Homans sama dengan prinsip ekonomi yaitu untung – rugi. Hal ini dapat dilihat ketika Homans menjelaskan teori ini dengan pengamatannya pada revolusi industri di Inggris. Melalui prinsip psikologis bahwa ketika perusahaan membutuhkan produksi yang banyak, maka perusahaan meningkatkan hadiah (reward) kepada para pekerja agar pekerja itu dapat melakukan pekerjaannya dengan lebih cepat dan baik.

Homans menyesal menamakan teorinya “teori pertukaran” karena ia melihatnya sebagai penerapan psikologi perilaku pada situasi khusus. Ia mencoba membedakan prinsip dasar psikologi dengan teorinya dalam pembahasan paradigma perilaku B.F. Skinner, khususnya tentang studi burung merpati Skinner.

Dalam paradigma Skinner ini, Homans tidak melihatnya sebagai perilaku sosial, tetapi perilaku individual, karena hubungan merpati dengan psikolog itu hanya satu pihak. Sedangkan yang dijelaskan Homans dalam teori pertukaran adaah perilaku sosial yang dimana aktivitas satu binatang dapat menguatkan aktivitas binatang lain. Menurut Homans, yang terpenting adalah bahwa tak diperlukan proporsisi baru untuk menjelaskan perbedaan perilaku sosial dan perilaku individual (Ritzer, 2004:358). Karena itulah ia meninggalkan konsep yang diberikan oleh Skinner sekaligus menegaskan bahwa teorinya tentu jelas berbeda dengan konsep teori psikologi.

Beberapa Proporsisi Tentang Perilaku

Proporsisi Sukses (The Success Proporsition)

Untuk semua tindakan yang dilakukan seseorang, semakin sering tindakan khusus seseorang diberi hadiah, semakin besar kemungkinan orang melakukan tindakan itu (Homans,1974:16) dalam.

Semakin sering sebuah tindakan memperoleh reward, maka tindakan tersebut akan semakin sering dilakukan. Ketika seseorang pencuri mencuri sebuah barang, dan ia melakukannya dengan sukses (reward) maka ia cenderung akan mengulangi perbuatannya lagi. Namun proporsisi ini bukan tidak ada batasnya. Pada saat tertentu individu tidak dapat melakukan tindakan ini sesering mungkin. Kemudian semakin pendek jarak waktu ia bertindak dan menerima reward, semakin besar kemungkinan ia mengulangi perilakunya lagi. Sebaliknya, semakin lama ia menerima reward, semakin kecil ia melakukan tindakan itu lagi. Menurut Homans, semakin sering hadiah yang diterimanya, maka perilaku itu pun semakin membosankan. Tapi, ketika reward yang diterimanya tidak teratur, maka ia pun cenderung akan mengulanginya lagi. Contohnya perjudian.

Proporsisi Pendorong (The Stimulus Proporsition)

Bila dalam kejadian dimasa lalu dorongan tertentu atau sekumpulan dorongan telah menyebabkan tindakan orang diberi hadiah, maka makin serupa dorongan kini dengan dorongan di masa lalu, makin besar kemungkinan orang melakukan tindakan seupa.

Ketika seseorang melakukan suatu interaksi simbolik, misalnya : ketika si amir mengharapkan perhatian dari keluarganya, dengan selalu membuat masalah di luar agar di perhatikan. Ternyata harapannya berhasil. Maka suatu saat dia akan melakukan simbol-simbol itu untuk mendapat perhatian. Simbol-simbol itulah yang dinamakan stimulus.

Proporsisi Nilai (The Value Proporsition)

Makin tinggi nilai hasil tindakan seseorang bagi dirinya, makin besar kemungkinan ia melakukan tindakan itu.

Dalam proporsisi ini, Homans memperkenalkan dua konsep yaitu reward dan punishment Yang pertama adalah tindakan dengan nilai positif ; semakin tinggi nilai hadiah, makin besar kemungkinan mendatangkan perilaku yang diinginkan. Contohnya adalah ketika seorang pria menginginkan seorang wanita. Dan ia menganggap wanita itu berharga bagi dirinya, ia akan mendatangkan perilaku atau berusaha untuk mendapatkan wanita itu.hukuman adalah tindakan dengan nilai negatif. Makin tinggi nilai hukumannya, maka makin kecil pula individu mewujudkan perilaku yang diinginkan. Misalnya, seseorang yang membutuhkan uang, dan ia mempunnyai gagasan untuk mencuri. Namun ia tahu ataupun teringat bahwa hukuman mencuri adalah dipenjara. Maka kecenderungan ia mencuri akan semakin kecil. Menurut Homans, hukuman bukanlah cara yang efektif untuk membuat individu jera. Karena mereka dapat bereaksi terhadap hukuman dengan cara yang tak diinginkan. Salah mengintepretasikan hukuman. Homans menjelaskan bahwa teorinya bukanlah teori hedonitis ; hadiah dapat berupa materi (uang misalnya) atau altruistis (membantu orang lain)

Proporsisi Deprivasi-Kejemuan (The Deprivation-Satiation Proporsition)

Semakin sering seseorang menerima hadiah khusus di masa lalu yang dekat, makin kurang bernilai baginya setiap unit hadiah berikutnya.

Contoh proporsisi ini adalah : seorang kekasih memberikan hadiah kepada pasangannya beberapa minggu yang lalu. Tapi kemudian ia memberikan hadiah lagi sekarang dan minggu-minggu selanjutnya. Maka pemberian ataupun perasaan sang pasangannya ketika menerima hadiah dari kekasihnya menjadi semakin berkurang.

Proporsisi Persetujuan-Agresi (The Aggression-Approval Proporsition)

Proporsisi A : Bila tindakan orang tak mendapatkan hadiah yang ia harapkan atau menerima hukuman yang tidak ia harapkan, ia akan marah ; besar kemungkinan ia akan melakukan tindakan agresif dan akibatnya tindakan demikian makin bernilai baginya dalam.

Bila seorang gadis bernama A curhat kepada temannya bernama B. Kemudian B memberi nasihat kepada A. Namun nasihat B tidak sesuai dengan yang A harapkan. B melihat A tidak menyukai ataupun menghargai nasihatnya itu, maka keduanya akan marah. Konsep yang Homans berikan mengacu pada keadaan mental. Kekecewaan dapat mengacu pada seluruh kejadian eksternal. (khusus ke umum)

 Proporsisi B : Bila tindakan seseorang menerima hadiah yang ia harapkan, terutama hadiah yang lebih besar daripada yang ia harapkan, atau tidak menerima hukuman yang ia bayangkan, maka ia akan puas ; ia makin besar kemungkinannya melaksanakan tindakan yang disetujui dan akibat tindakan seperti itu akan makin bernilai baginya (Homans 1974:39) dalam.

Dalam kasus kedua gadis yang curhat dan penasehat, bila kedua-duanya mendapat apa yang mereka harapkan, maka dua-duanya akan puas dan tidak terjadi marah. Bahkan nasehat dan pujian itu akan semakin bernilai harganya.

Proporsisi Rasionalitas (The Rationality Proporsition)

Dalam memilih alternatif tindakan maka ia akan cenderung memilih yang bernilai, digandakan dengan berbagai kemungkinan untuk memperoleh hasil yang besar / menguntungkan. Proporsisi ini sangat dipengaruhi oleh teori pilihan rasional. Berbeda dari proporsisi-proporsisi sebelumnya yang lebih mengacu pada behaviorisme. Ia bertindak berdasarkan rasionalitasnya yang dalam istilah ekonomi adalah memaksimalkan kegunaanya. Apabila ia tidak dapat mencapai reward yang tinggi, ia akan menurunkan nilainya.bilai ia berpikir tak dapat mencapai reward itu. Begitu juga sebaliknya. Apabila ia berpikir dapat mencapai reward dengan mudah ia akan menaikan nilai reward itu. Peluang ataupun dasar perkiraan mereka dapat mencapai atau tidak, berdasarkan pengalaman dan penilaian masa lalu.

Kritikan terhadap Homans datang dari Abrahamson (1970). Ia memandang banyak kelemahan homans si segi keadaan mental. Sedangkan Ekeh (1974) memandang kelemahan teori Homans di segi struktur berskala luas. Sebagai contoh, Homans mengakui perlunya “mengembangkan psikologi lebih lengkap lagi”. Homans tidak menjelaskan bagaimana individu (aktor) menilai hadiah yang satu lebih tinggi daripada hadiah yang lain dalam proporsisi rasionalitas.

DAFTAR PUSTAKA

Ritzer , Goerge. TEORI SOSIOLOGI (Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmoderen), Pustaka Pelajar, YOGYAKARTA, 2012.

Polloma, Margaret M.1987. Sosiologi Kontemporer, CV. Rajawali: Jakarta.

Lawang, Robert M.Z., 1990. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Mar
27
2015
0

RALF DAHNRENDORF

RALF DAHNRENDORF

Teori konflik sebagian berkembang sebagai reaksi terhadap fungsionalisme structural dan akibat berbagai kritik.  Teori konflik ini berasal dari berbagai sumber lain seperti teori Marxian dan pemikiran konflik sosial dari simmel. Pada 1950an dan 1960an teori konflik menyediakan alternative terhadap fungsionalisme structural, tetapi dalam beberapa tahun terakhir telah digantika oleh berbagai macam teori Neo-Marxian.Salah satu kontribusi utama teori konflik adalah meletakkan landasan untuk teori-teori yang lebih memanfaatkan pemikiran Marx. Masalah mendasar dari teori konflik adalah teori itu tidak pernah berhasil memisahkan dirinya dari akar struktural fungsionalnya. Teori ini lebih merupakan sejenis fungsionalisme structural yang angkuh ketimbang teori yang benar-benar berpandangan kritis terhadap masyarakatnya. Teori Konflik adalah suatu perspektif yang memandang masyarakat sebagai sistem sosial yang terdiri atas kepentingan-kepentingan yang berbeda-beda dimana ada suatu usaha untuk menaklukkan komponen yang lain guna memenuhi kepentingan lainnya atau memproleh kepentingan sebesar-besarnya. Atau konflik adalah situasi yang menyangkut hal terbaginya kedudukan-kedudukan social. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi.Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya.Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya.

Ralf dahrendorf penganut teori konflik dari karl marx akan tetapi dia juga menolak beberapa pandangan dari marx itu sendiri. Dahrendorf melihat bahwa struktur masyarakat industry telah mengalami perubahan besar semenjak zaman marx sendiri. Ia mengamati juga bahwa perubahan sosial tidak hanya datang dari dalam masyarakat tidak selalu disebabkan oleh konflik, dan disamping konflik kelas juga ada konflik social yang berbentuk lain. Konflik juga tidak selalu harus menghasilkan revolusi, dan perubahan social terjadi tanpa revolusi. Masyarakat itu terbagi menjadi beberapa kelompok yang di dasarkan pada kekuasaan ataupun wewenang. Karena kepentingan atar kelompok itu pasti berbeda-beda sebagai contoh kelompok yang berkuasa ingin mempertahankan kekuasaannya sedangkan kelompok yang dikuasai, berkepentingan untuk memperoleh kekuasaan, dan terjadilah konflik antar kelompok tersebut, dan jika kelompok yang dikuasai berhasil merebutnya dari kelompok yang berkuasa dulu maka akan menghasilkan perubahan sosial, dan dia juga mengatakan konflik itu merupak sumber terjadinya perubahan sosial. Dan dia juga mencatat bahwa kekuasaan politik selalu mengikuti kekuasaan di bidang industri.

Konflik juga menyatakan bahwa perpecahan merupakan hasil dari kehidupan social. Konflik selalu terjadi dalam struktur atau sistem tertentu yang secara umum dapat dilihat terjadinya antara lapisan atas dengan lapisan bawah, dan konflik juga terjadi karena kepentingan yang berbeda, maka dari itu konflik selalu terjadi dalam masyarakat. Teori konflik sebagian berkembang sebagai reaksi terhadap fungsionalisme struktural dan akibat berbagai kritik, yang berasal dari sumber lain seperti teori Marxian dan pemikiran konflik sosial dari Simmel. Salah satu kontribusi utama teori konflik adalah meletakan landasan untuk teori-teori yang lebih memanfaatkan pemikiran Marx. Dan ini di asumsikan bahwa teori konflik tidak akan pernah bisa memisahkan diri dari dari teori struktural fungsional. Asumsi Ralf tentang masyarakat ialah bahwa setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan, dan pertikaian serta konflik ada dalam sistem sosial juga berbagai elemen kemasyarakatan memberikan kontribusi bagi disintegrasi dan perubahan. Suatu bentuk keteraturan dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang memiliki kekuasaan, sehingga ia menekankan tentang peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat. Kondisi seperti kepemimpinan, ideologi, kebebasan politik yang minimal, dan komunikasi internal merupakan prasyarat dasar untuk pembentukan kelompok-kelompok konflik. Dengan demikian berarti bahwa apabila salah satu dari elemen-elemen tersebut tidak ada diantara para anggota suatu kelompok semu, maka suatu kelompok konflik tidak akan terbentuk. Kondisi ini juga harus dilihat sebagai variable yang mempunyai nilai dalam kelompok konflik yang berbeda. Kondisi-kondisi tersebut di atas adalah merupakan prasyarat dasar untuk terbentuknya konflik kepentingan. Akan tetapi walaupun kondisi-kondisi tersebut perlu untuk pembentukan konflik tidak menjamin bahwa suatu kelompok konflik akan terbentuk. Ralf mengatakan masih ada syarat soial psikologis yang di perlukan. Mengapa demikian di karenakan meskipun proses ini dapat di rangsang oleh pemimpin kelompok konflik dan ideologinya dan juga komunikasinya satu sama lain tetapi secara psikologis proses tersebut berbeda.

Bagi Dahrendorf, masyarakat memiliki dua wajah, yakni konflik dan konsesus yang dikenal dengan teori konflik dialektika. Dengan demikian diusulkan agar teori sosiologi dibagi menjadi dua bagian yakni teori konflik dan teori konsesus. Teori konflik harus menguji konflik kepentingan dan penggunaan kekerasan yang mengikat masyarakat sedangkan teori konsesus harus menguji nilai integrasi dalam masyarakat. Bagi Ralf, masyarakat tidak akan ada tanpa konsesus dan konflik. Masyarakat disatukan oleh ketidakbebasan yang dipaksakan. Dengan demikian, posisi tertentu di dalam masyarakat mendelegasikan kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain. Fakta kehidupan sosial ini yang mengarahkan Dahrendorf kepada tesis sentralnya bahwa perbedaan distribusi ‘otoritas” selalu menjadi faktor yang menentukan konflik sosial sistematis.

Hubungan Otoritas dan Konflik Sosial Ralf Dahrendorf berpendapat bahwa posisi yang ada dalam masyarakat memiliki otoritas atau kekuasaan dengan intensitas yang berbeda-beda. Otoritas tidak terletak dalam diri individu, tetapi dalam posisi, sehingga tidak bersifat statis. Jadi, seseorang bisa saja berkuasa atau memiliki otoritas dalam lingkungan tertentu dan tidak mempunyai kuasa atau otoritas tertentu pada lingkungan lainnya. Sehingga seseorang yang berada dalam posisi subordinat dalam kelompok tertentu, mungkin saja menempati posisi superordinat pada kelompok yang lain. Kekuasaan atau otoritas mengandung dua unsur yaitu penguasa (orang yang berkuasa) dan orang yang dikuasai atau dengan kata lain atasan dan bawahan. Kelompok dibedakan atas tiga tipe antara lain : 1. Kelompok Semu (quasi group) 2. Kelompok Kepentingan (manifes) 3. Kelompok Konflik Kelompok semu adalah sejumlah pemegang posisi dengan kepentingan yang sama tetapi belum menyadari keberadaannya, dan kelompok ini juga termasuk dalam tipe kelompok kedua, yakni kelompok kepentingan dan karena kepentingan inilah melahirkan kelompok ketiga yakni kelompok konflik sosial. Sehingga dalam kelompok akan terdapat dalam dua perkumpulan yakni kelompok yang berkuasa (atasan) dan kelompok yang dibawahi (bawahan). Kedua kelompok ini mempunyai kepentingan berbeda. Bahkan, menurut Ralf, mereka dipersatukan oleh kepentingan yang sama. Mereka yang berada pada kelompok atas (penguasa) ingin tetap mempertahankan status quo sedangkan mereka berada di bawah (yang dikuasai atau bawahan ingin supaya ada perubahan. Semakin rendah seseorang dilapisan sosial masyarakat, maka semakin rendah otoritas yang dimilikinya. Sehingga suatu lumpun proletar berada lapisan bawah struktur sosial, yang tidak mempunyai pengaturan/organisasi. Pada akhirnya tidak mampu menjadi kelompok kepentingan dan tingkat perubahan sosialnya rendah. Menurut Dahrendorf, ada mekanisme dari lumpun proletar agar mengalami perubahan sosial, yaitu dengan cara melakukan aksi pertentangan kelas; khayalan evolusi Marx, secara laten ditentukan oleh posisi struktur dan secara nyata diberikan sosialisasi oleh intelektual.

Otoritas ini yang tidak dianalisis oleh Marx, bahwa perubahan sosial dapat dilakukan kaum buruh dengan bersatu. Bahwa masyarakat yang dianalisis oleh Dahrendorf adalah masyarakat post-kapital; memiliki dekomposisi modal (pemegang saham) mengakibatkan tenaga kerja mempunyai makna berbeda dari konsep alienasi menurut Marx. Pada intinya, kelas pekerja ini mempunyai otoritas dalam bentuk gaji; sehingga bukannya mementingkan untuk revolusi kelas pekerja, melainkan bergabung dengan serikat pekerja dan lebih fokus pada mobilitas diri sendiri yang nantinya mengubah statusnya secara struktural.

Dahrendorf mengakui pentingnya konflik mengacu dari pemikiran Lewis Coser dimana hubungan konflik dan perubahan ialah konflik berfungsi untuk menciptakan perubahan dan perkembangan. Jika konflik itu intensif, maka perubahan akan bersifat radikal, sebaliknya jika konflik berupa kekerasan, maka akan terjadi perubahan struktural secara tiba-tiba. Menurut Dahrendorf, adanya status sosial didalam masyarakat (sumber konflik yaitu: adanya benturan kaya-miskin, pejabat-pegawai rendah, majikan-buruh) kepentingan (buruh dan majikan, antar kelompok,antar partai dan antar  adanya dominasi adanya ketidakadilan atau diskriminasi. agama).  kekuasaan (penguasa dan dikuasai).

 

DAFTAR PUSTAKA

Ritzer , Goerge. TEORI SOSIOLOGI (Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmoderen), Pustaka Pelajar, YOGYAKARTA, 2012.

Demartoto, Argyo. MOSAIK DALAM SOSIOLOGI, UNS Press. SURAKARTA, 2007

Mar
26
2015
0

Konser Shela On 7 yang Menggila

berawal dari kakak-kakak Fiesta FM tercinta yang mengajak saya nonton konser Shela On 7  di GOR UNY pada saat itu. saya juga di perkenalkan dengan band asal jakarta yaitu Payung Teduh yang pada saat itu saya baru pertama kali tau tentang Payung Teduh dan al hasil saya tidak tau menau tentang lagu Payung Teduh dan akhirnya pada saat mereka pentas saya hanya berdiri saja dan tidak ikut bernyanyi dengan yang lainnya.

Mar
26
2015
0

Jenis – jenis Penelitian

Jenis – jenis Penelitian

Sebelum kita membaha lebih jauh tentang jenis – jenis penelitian, saya akan memberi penjabaran tentang apa itu penelitian atau definisi dari penelitian itu sendiri.

Definisi Penelitian sosial pada hakekatnya adalah kegiatan spionase untuk mencari,  memata-matai, dan menemukan pengetahuan pengetahuan dari “lapangan” yang dapat dipertanggungjawabkan menurut kaidah-kaidah tertentu dan bukan mencari kebenaran normatif yang semata-mata hanya dituntut oleh cara berfikir deduktif.

  1. David H Penny

Penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.

  1. Suprapto

Penelitian adalah penyelidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati, serta sistematis.

  1. Sutrisno Hadi

Sesuai dengan tujuannya, penelitian dapat diartikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.

  1. Mohamad ali

Penelitian adalah suatu cara untuk memahami sesuatu melalui penyelidikan atau usaha mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan masalah itu, yang dilakukan secara hati-hati sekali sehingga diperoleh pemecahannya.

  1. The New Horrison Ladder Dictinionary

Pengertian research ialah a careful study to discover correct information, yang artinya,                   suatu penyelidikan yang dilakukan secara hati-hati untuk memperoleh informasi yang      benar.

Secara etimologi, penelitian berasal dari bahasa Inggris (re berarti kembali, dan search berarti mencari). Dengan demikian research berarti mencari kembali.

Menurut kamus, penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu. Hillway dalam bukunya Introduction to research mengemuka-kan bahwa penelitian adalah suatu metode belajar yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah.

Tuckman mendefinisikan penelitian (research) : yaitu penelitian merupakan suatu usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah terhadap suatu masalah. Sistematis artinya mengikuti prosedur atau langkah-langkah tertentu. Jawaban ilmiah adalah rumusan pengetahuan, generaliasi, baik berupa teori, prinsip baik yang bersifat abstrak maupun konkret yang dirumuskan melalui alat- primernya, yaitu empiris dan analisis. Penelitian itu sendiri bekerja atas dasar asumsi, teknik dan metode.

 

Metode penelitian merupakan karya ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu. Dan cara ilmiah berarti yang dilandasi dengan ilmu pengetahuan.

Jenis-jenis penelitian ini dibedakan menurut sifat-sifat masalahnya. Sifat ini lah yang membuat penelitian ini menjadi semakin lebih bisa dibedakan untuk apa penelitian ini dibuat atau dilakukan dan hasilnya semakin mudah untuk di publikasikan dan juga lebih spesifik penggunaannya. Penelitian dibagi menjadi 4 sifat yaitu :

  • Menurut Penggunaannya
  • Menurut Sifat Permasalahnnya
  • Menuurut Metodenya
  • Menurut Tujuannya

 

Dari 4 sifat diatas, setidak-tidaknya dapat dibedakan menjadi beberapa hal seperti yang diuraikan dibawah ini.

Berdasarkan penggunaannya penelitian dibedaan menjadi :

  1. Penelitian murni
  2. Penelitian terapan
  3. Penelitian aksi
  4. Penelitian kebijakan
  5. Penelitian evaluasi

Berdasarkan pada tujuannya penelitian juga dibedakan menjadi :

  1. Penelitian eksploratoris
  2. Penelitian deskriptif
  3. Penelitian eksplanatoris

Berdasakan tempat atau lokasinya dapat dibedakan menjadi :

  1. Penelitian kancah
  2. Penelitian kepustaaan

Dan berdasarkan dengan metode dasarnya atau metode utamanya dapat dibedakan menjadi:

  1. Penelitian survei

Penelitian ini mengumpulkan data terhadap individu yang dianggap representatif mewakili populasinya untuk memperoleh sejumlah nilai – nilai tertentu atas sejumlah variabel yang dipilih. Peneliti survei merupakan suatu teknik pengumpulan informasi yang dilakukan dengan cara penyusunan daftar pertanyaan yang diajukan kepada para responden. Misalnya peneliti bermaksud untuk mengetahui konsumsi penduduk di sebuah wilayah tertentu, maka peneliti harus mewawancarai sejumlah penduduk tertentu agar dapat memperoleh gambaran mengenai berapa rupiah yang dikonsumsi oleh penduduk tersebut.

Penelitian survei dapat juga digunakan untuk melihat hubungan antara dua variabel atau lebih. Hal ini dimaksudkan untuk melihat apakah kenaaikan didalam lingkungan magnitude dari satu variabel atau lebih berasosiasi dengan kenaikan atau penurunan di dalam magnitude dari variabel lain.

Ada pun langkah – langkah untuk melakukan penelitian ini ada 6 yaitu :

  1. Langkah pertama, yaitu dengan membentuk hipotesisawal, menentukan jenis survei yang akan dilakukan akankah melalui surel (e-mail), wawancara (interview), atau telepon, membuat pertanyaan-pertanyaan, menentukan kategori dari responden, dan menentukan setting penelitian.
  2. Langkah kedua, yaitu merencanakan cara untuk merekam datadan melakukan pengujian awal terhadap instrumen
  3. Langkah ketiga, yaitu menentukan targetpopulasi responden yang akan di survei, membuat kerangka sampel survei, menentukan besarnya sampel, dan memilih sampel.
  4. Langkah keempat, yaitu menentukan lokasi responden, melakukan wawancara (interview), dan mengumpulkan data.
  5. Langkah kelima, yaitu memasukkan data ke komputer, mengecek ulang datayang telah dimasukkan, dan membuatanalisis statistik
  6. Langkah keenam, yaitu menjelaskan metode yang digunakan dan menjabarkan hasil peneuan untuk mendapatkan kritik, serta melakukan evaluasi.

Terdapat 3 jenis penelitian survei dengan berbagai kelebihan dan kelemahannya masing-masing.

  1. Melalui surat (mail-questionare) merupakan cara untuk menguji tanggapan responden melalui pengiriman kuisioner via pos. Kelebihan dari mail-questionare adalah hemat biaya, hemat waktu, responden bisa memilih waktu yang tepat baginya untuk mengisi kuesioner, ada jaminan kerahasiaan (anonymity) yang lebih besar, keseragaman kata (tidak dibacakan lagi), tidak ada bias pewawancara, serta banyak responden yang dapat dicapai (dibandigkan dengan pengiriman pewawancara ke banyak tempat). Sedangakan, kekurangannya adalah tidak fleksibel, terdapat kecenderungan rendahnya tanggapan hanya perilaku verbal yang tercatat, idak ada kendali atas lingkungan (ribut, diganggu), tidak ada kendali atas urutan pertanyaan, bisa menyebabkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, tidak bisa merekam jawaban secara spontan, kesulitan untuk membedakan antara tidak menjawab (non-response) dengan salah alamat, tidak ada kendali atas waktu pengembalian, tidak dapat menggunakan format yang kompleks, dan bisa mendapatkan sample yang bias.
  2. Metode wawancara tatap muka (face-to-face interview) merupakan cara untuk menguji tanggapan responden dengan bertemu muka atau berhadapan langsung. Kelebihan dari penelitian face-to-face interview adalah fleksibilitas,tingkat respon (response rate) yang baik, memungkinkan pencatatan perilaku non verbal, kendali atas lingkungan waktu menjawab, kemampuan untuk mengikuti urutan pertanyaan dan pencatatan jawaban seecara spontan, responden tidak bisa curang dan harus menjawab sendiri, terjaminnya kelengkapan jawaban dan pertanyaan yang dijawab, adanya kendali atas waktu menjawab pertanyaan, serta dapat digunakan untuk kuesioner yang kompleks. Sedangkan, kelemhannnya adalah biayanya yang mahal, waktu yang dibutuhkan untuk bertanya dan untuk berkunjung ke lokasi, bias pewawancara, tidak ada kesempatan bagi responden untuk mengecek fakta, mengganggu responden, kurang menjamin kerahasiaan, kurangnya keseragaman pertanyaan, serta kurang bisa diandalkan untuk mencapai banyak responden.
  3. Wawancara telepon (telephone interview) merupakan cara menguji tanggapan respondenvia telepon. Kelebihan daritelephone interviewadalah tingkat respon (Respon rate) lebih tinggi dari mail atau self administered. memnungkinkan untuk menjangkau geografis yang luas/ jauh, waktu lebih singkat, dapat mengontrol tahapan pengisian kuesioner, dapat melakukan pertanyaan lanjutan probing, dan memungkinkan untuk format pertanyaan yang lebih kompleks. Sedangkan, kekurangannya adalah biaya tinggi, panjang wawancara terbatas, terbatas untuk responden yang memilikitelepon, mengurangi anonimitas, memungkinkan bias pewawancara, sulit untuk pertanyaan terbuka, membutuhkan bantuan visual, serta hanya dapat mencatat hal-hal tertentu dari latar belakang suara atau intonasi suara.

Dalam membuat pertanyaan untuk penelitian survei, seorang peneliti perlu memerhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Hindari penggunaanjargon (contoh : sosialisasidemokrasi), kata-kata slank (contoh : gaptek, cupu, geje) , dan penggunaan singkatan.
  2. Hindariambiguitas atau pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan dan pertanyaan yang kabur.
  3. Hindaribahasa yang emosional dan bias prestise (gelar) à gunakan bahasa yang netral.
  4. Hindari pertanyaan yang di dalam satukalimat terdapat 2 pertanyaan sekaligus (double barraled).
  5. Hindari pertanyaan yang mengarahkanjawaban responden (leading question).
  6. Hindari pertanyaan yang di luarkemampuan responden untuk menjawabnya.
  7. Hindari pertanyaan yang dimulai denganpremis yang salah.
  8. Hindari pertanyaan mengenaimasa depan.
  9. Hindari pertanyaan yang menggunakan dua pernyataannegatif (double negative).
  10. Hindari pertanyaan dengan kategori jawaban yangtumpang tindih

 

  1. Penelitian kasus

Penelitian kasus bertujuan untuk mempelajari gejala-gejala sosial melalu analisis ynag terus menerus tentang kasus yang dipilih. Kasusnya bisa jadi orang (individu), kelompok (misalnya sebuah gank), suatu episode, suatu proses, suatu komunitas, suatu masyarakat. Seluruh data yang diraih diorganisasikan untuk menerangkan kasus yang dipilih sebagai objek penelitian. Metode studi kasus memberikan ciri tunggal terhap data yang sedang dipelajari dan menghubungkan keanekaragaman fakta-fakta terhadap kasus yang tunggal itu. Hal ini memberikan kesempatan bagi analisis yang intensif terhadap perincian-perincian khusus yang sering diabaikan oleh metode-metode lainnya.

Penelitian kasus dapat dilakukan terhadap kasus tunggal maupun kasus ganda. Adapun langkah-langkah untuk elakukan penelitian studi kasus ini yaitu dengan cara :

  1. Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara bertujuan (purposive) dan bukan secara rambang. Kasus dapat dipilih oleh peneliti dengan menjadikan objek orang, lingkungan, program, proses, dan masvarakat atau unit sosial. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah masuk akal, sehingga dapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumbersumber yang tersedia;
  2. Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan data, tetapi yang lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Peneliti sebagai instrurnen penelitian, dapat menyesuaikan cara pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan penelitian, serta dapat mengumpulkan data yang berbeda secara serentak;
  3. Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi, mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi secara kronologis, kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. Analisis data dilakukan sejak peneliti di lapangan, sewaktu pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan;
  4. Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul, dalam pendekatan studi kasus hendaknya clilakukan penvempurnaan atau penguatan (reinforcement) data baru terhadap kategori yang telah ditemukan. Pengumpulan data baru mengharuskan peneliti untuk kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat kategori baru, data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada;
  5. Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, rnudah dibaca, dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas, sehingga rnernudahkan pembaca untuk mernahami seluruh informasi penting. Laporan diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehiclupan seseorang atau kelompok.

 

  1. Penelitian eksperimental

Penelitian ekperimen adalah penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat. Bentuk penelitian eksperimen menurut Tuckman (1982) ada 4 jenis, yaitu pre experimental, true experimental, factorial, dan quasi experimental. Berbeda dengan Tuckman, Sukmadinata (2009) dalam bukunya menyatakan bahwa penelitian eksperimen berdasarkan variasinya terdiri dari penelitian ekperimen murni (true experimental), eksperimen kuasi (quasi experimental), eksperimen lemah (weak experimental) dan eksperimen subjek tunggal (single subject experimental).

Tujuan penelitian eksperimental ialah untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih dengan memberikan perlakuan (tretment) pada kelompok eksperimental (kelompok yang dijoba). Untuk mengetahui pengaruh dari tretment, maka kelompok eksperimental perlu diperbandingkan dengan kelompok lain  yang tidak diberi tretment (kelompok ini disebut kelompok pengontrol). Didalam penelitian sosial biasanya tidak dapat melakukan kegiatan penelitian eksperimental sungguhan (trut experimental design) karena tidak mungkin untuk mengontrol seluruh variabel yang mempengaruhi timbulnya suatu akibat. Yang banyak dilakukan i dalam penelitian sosial ialah penelitian eksperimental semu (quasi experimental design).

Eksperimen murni merupakan metode eksperimen yang paling mengikuti prosedur dan memenuhi syarat-syarat eksperimen. Dalam eksperimen murni, kecuali variabel independen yang akan diuji pengaruhnya terhadap variabel dependen, semua variabel dikontrol atau disamakan karakteristiknya (dicari yang sama). Sedangkan pada eksperimen semu (quasi experimental) pengontrolan variabel hanya dilakukan terhadap satu variabel saja, yaitu variabel yang dipandang paling dominan.

Eksperimen lemah merupakan metode penelitian eksperimen yang desain dan perlakuannya seperti eksperimen, tetapi tidak ada pengontrolan variabel sama sekali. Eksperimen ini sangat lemah kadar validitasnya. Eksperimen jenis ke empat adalah eksperimen subjek tunggal. Eksperimen subjek tunggal merupakan eksperimen yang dilakukan terhadap subjek tunggal. Dalam pelaksanaan eksperimen subjek tunggal, variasi bentuk eksperimen murni, kuasi dan lemah belaku. Contoh penelitian eksperimen: Pengaruh Pola Asuh terhadap Kemandirian Anak

Menurut Yatim Riyanto (1996:28-40), penelitian eksperimen merupakan penelitian yang sistematis, logis, dan teliti didalam melakukan kontrol terhadap kondisi. Dalam pengertian lain, penelitian eksperimen adalah penelitian dengan melakukan percobaan terhadap kelompok eksperimen, kepada tiap kelompok eksperimen dikenakan perlakuan-perlakuan tertentu dengan kondisi-kondisi yang dapat di kontrol

Karakteristik

  1. Secara khas menggunakan kelompok kontrol sebagai garis dasar untuk dibandingkan dengan   kelompok yang dikenai perlakuan eksperimental.
  2. Menggunakan sedikitnya dua kelompok eksperimen.
  3. Harus mempertimbangkan kesahihan ke dalam (internal validity)
  4. Harus mempertimbangkan kesahihan keluar (external validity)

Tahapan dan Macam Eksperiment

  1. Eksperimentasi permulaan
  2. Rancangan Faktorial.
  3. Kelompok eksperimen dan kelompok control
  4. Validitas Eksperimen
  5. Variabel yang Terkait dengan Eksperimentasi.
  6. Rancangan Eksperimen

Langkah Pokok Eksperiment

  1. Melakukan survei kepustakaan yang relevan bagi masalah yang akan digarap.
  2. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
  3. Merumuskan hipotesis, berdasarkan atas penelaahan kepustakaan.
  4. Mengidentifikasikan pengertian-pengertian dasar dan variable-variabel utama.
  5. Menyusun rencana eksperimen.
  6. Melakukan eksperimen.
  7. Mengatur data kasar itu dalam cara yang mempermudah analisis selanjutnya dengan menempatkan dalam rancangan yang memungkinkan memperhatikan efek yang diperkirakan akan ada.

 

 

  1. Penelitian grounded (grounded research)

Penelitian grounded bertujuan untuk menghasilkan teori yang ditarik secara induktif dari studi yang mendalam. Penelitian induktif yang empiris mengarahkan peneliti pada katagori dari data yang dia kumpulkan. Berikutnya peneliti menghubungkan antara katagori yang satu dengan katagori lainnya sebagai dasar pembentukan hipotesis kerja. Begitu seterusnya data dikumpulkan untuk memperkuat atau merevisi hipotesis kerjanya. Bila udah tidak ada lagi kasus yang negatif, hipotesis kerja berkembang menjadi hipotesis. Dan bila temucnnya terus diperkuat maka hipotesis menjadi teori.

LANGKAH-LANGKAH DALAM GROUNDED RESEARCH

  1. Merumuskan Masalah Penelitian

Perumusan masalah pada penelitian grounded research dilakukan secara bertahap, yakni pada tahap awal atau sebelum pengumpulan data, rumusan masalah dikemukakan secara garis besar yang berfungsi sebagai panduan dalam mengumpulkan data data, kemudian data-data yang bersifat umum tersebut dikumpulkan, setelah itu rumusan masalah dipersempit dan difokuskan sesuai sifat daat yang dkumpulkan. Rumusan masalah yang kedua ini digunakan peneliti sebagai panduan dalam menyusun teori. Sehingga dapat kita ketahui bahwa dalam merumuskan masalah pada penelitian grounded research dilakukan tidak hanya satu kali saja.

  1. Melakukan penjaringan data

Data dalam penelitian grounded research digali dari berbagai fenomena atau perilaku yang sedang berlangsung yang digunakan utnuk melihat prosesnya serta untuk menangkap hal-hal yang bersifat kausalitas/ sebab akibat.

  1. Analisis data

Tahap-tahap analisis data yakni, (a) open coding, peneliti membentuk beberapa kategori awal informasi tentang fenomena yang diteliti dengan memilah-milah data ke dalam jenis yang relevan; (b) axial coding, peneliti memilih salah satu kategori dan memposisikannya sebagai inti fenomena yang sedang diteliti; (c) selective coding, peneliti menulis teori dari berbagai hubungan dari seluruh kategori dalam tahap axial coding sebelumnya.

  1. Penyusunan teori

Dalam proses penyusunan teori meliputi analisa dari hubungan yang terjadi pada keseluruhan kategori yang telah ditemukan sebelumnya. Menurut Creswell (2008) mengemukakan bahwa teori dapat dituliskan dalam bentuk narasi yang menggambarkan kesalingterkaitan seluruh kategori.

  1. Validasi teori

Proses validasi ini dilakukan setelah teori selesai dirumuskan, dengan cara membandingkannya dengan proses-proses sejenis yang terdapat dalam penelitian sebelumnya. Creswell (2008) mengemukakan bahwa penilai luar, seperti partisipan juga daapt dimintai untuk memeriksa keabsahan teori maupun validitas dan kredibilitas data.

  1. Penulisan laporan penelitian

Creswell (2008) mengemukakan bahwa struktur laporan dalam penelitian grounded research sangat tergantung pada desain yang digunakan. Jika desain yang digunakan adalah pendekatan sistematik, laporan penelitian relatif mirip dengan struktur laporan penelitian kuantitatif, yang mencakup bagian-bagian perumusan masalah, metode penelitian, analisis dan diskusi, dan hasil penelitian. Jika desain yang digunakan adalah pendekatan emerging atau konstruktivis, struktur laporan penelitikan bersifat fleksibel.

Secara lebih singkat, Nazir (1988: 90-91) dalam buku Metode Penelitian mengemukakan bahwa terdapat langkah-langkah pokok dari grounded reseacrh, yakni (a) menentukan masalah yang ingin diselidiki; (b) mengumpulkan data; (c) menganalisa dan memberikan penjelasan; dan (d) membuat laporan penelitian.

 

KELEMAHAN DARI GROUNDED RESEARCH

Vredenbregt (1981) dalam Nazir (1988: 92) mengungkapkan beberapa kelemahan dari penelitian grounded research antara lain sebagai berikut:

  1. Grounded research menggunakan analisa perbandingan dan mensifatkan analisa perbandingan sebagai penemuan yang baru. Karena grounded research tidak menggunakan probability sampling, maka generalisasi yang diabuat akan mengandung banyak bias.
  2. Akhir satu penelitian bergantung pada subjektivitas peneliti. Apakah hasilnya suatu teori atau hanya satu generalisasi saja, tidak ada seorang pun yang tahu kecuali peneliti itu sendiri.
  3. Secara umum dapat disimpulkan bahwa teori yang diperoleh dalam grounded research tidak didasarkan atas langkah-langkah sistematis melalui siklus empiris dari metode ilmiah. Spekulasi dan sifat impresionistis menjadi kelemahan utama grounded research, sehingga diragukan adanya representativitas, validitas, dan reliabilitas dari data.
  4. Grounded research dapat disamakan dengan pilot studi atau exploratory research belaka.
  5. Karena dalam memberikan definisi banyak sekali digunakan aksioma atau asumsi mereka sendiri, maka sukar sekali dinilai dengan metode-metode umum lainnya yang sering dilakukan dalam penelitian kemasyarakatan.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Bagong suyanto dan sutinah, MPS : Berbagai Alternatif Pendekatan, Jakarta : Kencana, 2007 Ed 1 cet 3; XVIII, 252 hlm 23 cm

Drs. Y Slamet, M.Sc, Metode Penelitian Sosial, Surakarta : UNSPress, 2006. Ed1, Cet 1

Mar
26
2015
0

EMILE DURKHEIM

EMILE DURKHEIM-FAKTA SOSIAL

 

Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal; atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual.

Dalam buku Rules of Sociological Method, “Fakta sosial adalah setiap cara bertindak, baik tetap maupun tidak, yang bisa menjadi pengaruh atau hambatan eksternal bagi seorang individu.” Dan dapat diartikan bahwa fakta sosial adalah cara bertindak, berfikir, dan merasa yang ada diluar individu dan sifatnya memaksa serta terbentuk karena adanya pola di dalam masyarakat. Artinya, sejak manusia dilahirkan secara tidak langsung ia  diharuskan untuk bertindak sesuai dengan lingkungan sosial dimana ia dididik dan sangat sukar baginya untuk melepaskan diri dari aturan tersebut. Sehingga ketika seseorang berbuat lain dari apa yang diharapkan oleh masyarakat maka ia akan mendapatkan tindakan koreksi, ejekan, celaan, bahkan mendapat sebuah hukuman. Selain itu, fakta sosial memiliki 3 sifat yaitu: eksternal, umum (general), dan memaksa (coercion).

  1. Eksternal

Eksternal artinya fakta tersebut berada diluar pertimbangan-pertimbangan seseorang dan telah ada begitu saja jauh sebelum manusia ada didunia.

  1. Koersif (Memaksa)

Fakta ini memeliki kekuatan untuk menekan dan memaksa individu menerima dan melaksanakannya. Dalam fakta sosial sangat nyata sekali bahwa individu itu dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong dengan cara tertentu yan dipengaruhi oleh berbagai tipe fakta sosial dalam lingkungan sosialnya.  Artinya, fakta sosial mempunyai kekuatan untuk memaksa individu untuk melepaskan kemauannya sendiri sehingga eksistensi kemauannya terlingkupi oleh semua fakta social.

  1. Menyebar/umum (General)

Fakta sosial itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam suatu masyarakat. Dengan kata lain, fakta sosial ini merupakan milik bersama, bukan sifat individu perseorangan.

Dari karakteristik di atas, dapat ditarik benang merahnya bahwa fakta sosial mengarahkan pada sesuatu yang ada diluar individu yang mengharuskannya untuk mengikuti adat istiadat, sopan santun, dan tata cara penghormatan yang lazim dilakukan sebagai anggota masyarakat dan melakukan hubungan antar individu dengan individu lain dalam suatu masyarakat. Dengan perkataan lain, fakta sosial seperti tindakan individu dalam melakukan hubungan dengan anggota masyarakat lain yang berpedoman dengan norma-norma dan adat istiadat seseorang sehingga ia melakukan hubungan-hubungan terpola dengan anggota masyarakat lain.

Durkheim membedakan dua tipe ranah fakta sosial:

  1. Fakta sosial Material

Fakta sosial material lebih mudah dipahami karena bisa diamati. Fakta sosial material  tersebut sering kali mengekspresikan kekuatan moral yang lebih besar dan kuta yang sama-sama berada diluar individu dan memaksa mereka. Kekuatan moral inilah yang disebut dengan fakta sosial nonmaterial.

  1. Fakta sosial Nonmaterial

Durkheim mengakui bahwa fakta sosial nonmaterial memiliki batasan tertentu, ia ada dalam fikiran individu. Akan tetapi dia yakin bahwa ketika orang memulai berinteraksi secara sempurna, maka interaksi itu akan mematuhi hukumnya sendiri. Individu masih perlu sebagai satu jenis lapisan bagi fakta sosial nonmaterial, namun bentuk dan isi partikularnya akan ditentukan oleh interaksi dan tidak oleh individu. Oleh karena itu dalam karya yang sama Durkheim menulis : bahwa hal-hal yang bersifat sosial hanya bisa teraktualisasi melalui manusia; mereka adalah produk aktivitas manusia.

Jenis-jenis fakta sosial nonmaterial:

  1. Moralitas

Perspektif Durkheim tentang moralitas terdiri dari dua aspek. Pertama, Durkheim yakin bahwa moralitas adalah fakta sosial, dengan kata lain, moralitas bisa dipelajari secara empiris, karena ia berada di luar individu, ia memaksa individu, dan bisa dijelaskan dengan fakta-fakta sosial lain. Artinya, moralitas bukanlah sesuatu yang bisa dipikirkan secara filosofis, namun sesuatu yang mesti dipelajari sebagai fenomena empiris. Kedua, Durkheim dianggap sebagai sosiolog moralitas karena studinya didorong oleh kepeduliannya kepada “kesehatan” moral masyarakat modern.

  1. Kesadaran Kolektif

Durkheim mendefinisikan kesadaran kolektif sebagai berikut; “seluruh kepercayaan dan perasaan bersama orang kebanyakan dalam sebuah masyarakat akan membentuk suatu sistem yang tetap yang punya kehidupan sendiri, kita boleh menyebutnya dengan kesadaran kolektif atau kesadaran umum. Dengan demikian, dia tidak sama dengan kesadaran partikular, kendati hanya bisa disadari lewat kesadaran-kesadaran partikular”. Ada beberapa hal yang patut dicatat dari definisi ini. Pertama, kesadaran kolektif terdapat dalam kehidupan sebuah masyarakat ketika dia menyebut “keseluruhan” kepercayaan dan sentimen bersama. Kedua, Durkheim memahami kesadaran kolektif sebagai sesuatu terlepas dari dan mampu menciptakan fakta sosial yang lain. Kesadaran kolektif bukan hanya sekedar cerminan dari basis material sebagaimana yang dikemukakan Marx. Ketiga, kesadaran kolektif baru bisa “terwujud” melalui kesadaran-kesadaran individual. Kesadaran kolektif merujuk pada struktur umum pengertian, norma, dan kepercayaan bersama. Oleh karena itu dia adalah konsep yang sangat terbuka dan tidak tetap. Durkheim menggunakan konsep ini untuk menyatakan bahwa masyarakat “primitif” memiliki kesadaran kolektif yang kuat, yaitu pengertian, norma, dan kepercayaan bersama , lebih dari masyarakat modern.

  1. Representasi Kolektif

Contoh representasi kolektif adalah simbol agama, mitos, dan legenda populer. Semuanya mempresentasikan kepercayaan, norma, dan nilai kolektif, dan mendorong kita untuk menyesuaikan diri dengan klaim kolektif. Representasi kolektif juga tidak bisa direduksi kepada individu-individu, karena ia muncul dari interaksi sosial, dan hanya bisa dipelajari secara langsung karena cenderung berhubungan dengan simbol material seperti isyarat, ikon, dan gambar atau berhubungan dengan praktik seperti ritual.

  1. Arus Sosial

Menurut Durkheim, arus sosial merupakan fakta sosial yang tidak menghadirkan diri dalam bentuk yang jelas. Durkheim mencontohkan dengan “dengan luapan semangat, amarah, dan rasa kasihan” yang terbentuk dalam kumpulan publik.

  1. Pikiran Kelompok

Durkheim menyatakan bahwa pikiran kolektif sebenarnya adalah kumpulan pikiran individu. Akan tetapi pikiran individual tidak secara mekanis saling bersinggungan dan tertutup satu sama lain. Pikiran-pikiran individual terus-menerus berinteraksi melalui pertukaran simbol: mereka megelompokkan diri berdasarkan hubungan alami mereka, mereka menyusun dan mengatur diri mereka sendiri. Dalam hal ini terbentuklah suatu hal baru yang murni bersifat psikologis, hal yang tak ada bandingannya di dunia biasa.

 

 

 

SOLIDARITAS SOSIAL

 

Solidaritas menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang di dasarkan oleh pada perasaan moral dan kepercayaan bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Pembagian kerja yang menutut bisa membuat solidaritas sosial menjadi berkurang atau bahkan runtuh akan tetap menurut Durkheim fungsi ekonomis yang dimainkan oleh pembagian kerja ini menjadi tidak pentinngjika dibandingkan dengan efek moralitas yang dihasilkannya. Maka fungsi sesungguhnya dari pembagian kerja adalah untuk menciptakan solidaritas antara dua orang atau lebih.

Dalam The Division of Labor in Society Durkheim menggunakan ide patologis untuk mengkritik bentuk “ abnormal” yang ada dalam pembagian kerja masyarakat modern. Secara etimologi arti solidaritas adalah kesetiakawanan atau kekompakkan. Pendapat lain mengemukakan bahwa Solidaritas adalah kombinasi atau persetujuan dari seluruh elemen atau individu sebagai sebuah kelompok. Dengan demikian, bila dikaitkan dengan kelompok sosial dapat disimpulkan bahwa Solidaritas adalah rasa kebersamaan dalam suatu kelompok tertentu yang menyangkut tentang kesetiakawanan dalam mencapai tujuan dan keinginan yang sama. Dalam Kelompok sosial dapat diklasifikasikan dengan pandangan-pandangan tertentu, salah satunya kelompok sosial diklasifikasikan menurut rasa solidaritas antar anggotanya.

Sehingga secara umum solidaritas dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Solidaritas Mekanik

solidaritas yang muncul pada masyarakat yang masih sederhana dan diikat oleh kesadaran kolektif serta belum mengenal adanya pembagian kerjadiantara para anggota kelompok. (Masyarakat Pedesaan).

Ciri-ciri Solidaritas Mekanik yaitu Merujuk kepada ikatan sosial yang dibangun atas kesamaan, kepercayaan dan adat bersama. Disebut mekanik, karena orang yang hidup dalam unit keluarga suku atau kota relatif dapat berdiri sendiri dan juga memenuhi semua kebutuhan hidup tanpa tergantung pada kelompok lain.

  1. Solidaritas Organik

solidaritas yang mengikat masyarakat yang sudah kompleksdan telah mengenal pembagian kerja yang teratur sehingga disatukan oleh saling ketergantungan antar anggota. (Masyarakat Perkotaan).

Ciri-ciri Solidaritas Organik yaitu Menguraikan tatanan sosial berdasarkan perbedaan individual diantara rakyat. Merupakan ciri dari masyarakat modern, khususnya kota. Bersandar pada pembagian kerja (division of labor) yang rumit dan didalamnya orang terspesialisasi dalam pekerjaan yang berbeda-beda. Seperti dalam organ tubuh, oranglebih banyak saling bergantung untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dalam Division of labor yang rumit ini, Durkheim melihat adanya kebebasan yang lebih besar untuksemua masyarakat: kemampuan untuk melakukan lebih banyak pilihan dalam kehidupan mereka Meskipun Durkheim mengakui bahwa kota-kota dapat menciptakan impersonality (sifat tidak mengenal orang lain), alienasi, disagreement dan konflik,ia mengatakan bahwa solidaritas organik lebih baik dari pada solidaritas mekanik Beban yang kami berikan dalam masyarakat modern lebih ringan daripada masyarakat pedesaan dan memberikan lebih banyak ruang kepada kita untuk bergerak bebas.

Perbedaan Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik Solidaritas Mekanik Relatif berdiri sendiri (tidak bergantung pada orang lain) dalam keefisienan kerja Terjadi di Masyarakat Sederhana Ciri dari Masyarakat Tradisional (Pedesaan) Kerja tidak terorganisir Beban lebih berat Tidak bergantung dengan orang lain Solidaritas Organik Saling Keterkaitan dan mempengaruhi dalam keefisienan kerja Dilangsungkan oleh Masyarakat yang kompleks Ciri dari Masyarakat Modern (Perkotaan) Kerja terorganisir dengan baik Beban ringan Banyak saling bergantungan dengan yang lain.

 

EVOLUSI SOSIAL

 

Inti dari evolusi sosial menurut pandangan Durkheim adalah adanya pembagian  solideritas mekanik dan organik. Dan dia menyebutkan tentang perbandingan sifat pokok dari masyarakat yang didasarkan pada solideritas mekanik dengan solideritas organik.

Menurut Durkheim Terjadi Suatu evolusi berangsur-berangsur dari Solidaritas mekanis ke solidaritas organis yang didasarkan atas pembagian kerja. Evolusi itu dapat dilihat dari meningkatnya hukum restitutif yang mengakibatkan berkuranya hukum represif dan dari melemahnya kesadaran kolektif. Surutnya keasadaran kolektif itu tampak paling jelas didalamnya hilangnya arti agama. Dengan demikian maka terdapat lebih banyak ruang bagi perbedaan-perbedaan individual. Tetapi Durkheim mengemukakan pada waktu yang sama bahwa kesadaran kolektif dalam segi-segi tertentu justru bertambah kuat, yaitu dimana kesadaran kolektif ini memberi tekanan kepada martabat individu .

Jadi, perubahan masyarakat yang cepat karena semakin meningkatnya pembagian kerja menghasilkan suatu kebingungan tentang norma dan semakin meningkatnya sifat yang tidak pribadi dalam kehidupan sosial, yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku. Durkheim menamai keadaan ini anomie. Dari keadaan anomie muncullah segala bentuk perilaku menyimpang, dan yang paling menonjol adalah bunuh diri

 

BUNUH DIRI

 

Definisi bunuh diri menurut Durkheim adalah: “bunuh diri istilah diterapkan pada semua kasus kematian yang diakibatkan secara langsung atau tidak langsung dari tindakan positif atau negatif dari korban sendiri, yang dia tahu akan menghasilkan hasil ini” (Suicide, 1982 : 110). Definisi ini digunakan untuk memisahkan bunuh diri benar dari kematian disengaja. Dia kemudian mengumpulkan statistik tingkat bunuh diri beberapa negara Eropa, yang terbukti relatif konstan antara negara-negara dan di antara demografi yang lebih kecil dalam suatu negara. Dengan demikian, kecenderungan kolektif terhadap bunuh diri ditemukan.

Ada dua situasi yang menyebabkan bunuh diri, yaitu berasal dari faktor internal, yang kedua bunuh diri harus dijelaskan dengan fakta sosial yang lainnya atau berasal dari lingkungan eksternal. Pada saat Durkheim meneliti masalah bunuh diri, kasus ini lebih banyak dianggap sebagai kasus yang disebabkan oleh penyakit mental, yang sering disebut sebagai monomania, dan orang berpenyakit gila. Namun dalam kenyataannya, beberapa prinsip yang mendasari sebab bunuh diri ini sangat berlawanan dengan data statistic yang ada, ketika masalahnya bukan berasal dari gejala klinis yang dapat dihubungkan motifnya. Ternyata bunuh diri secara statistik tidak dapat dikatakan sebagai monomania dan konsekuensinya bukan merupakan suatu penyakit.

. Berdasarkan hubungan tersebut, Durkheim membagi bunuh diri menjadi 4 tipe yaitu:

  1. Bunuh diri Egoistik (egoistic suicide).

Ini adalah jenis bunuh diri yang terjadi di mana tingkat integrasi sosial yang rendah dalam masyarakat. Individu tidak cakap melakukan pengikatan diri dengan kelompok-kelompok sosial (bergaul/berinteraksi dengan kelompok sosial/masyarakat). Akibatnya adalah nilai-nilai, berbagai tradisi, norma-norma serta tujuan-tujuan sosial pun sangat sedikit untuk dijadikan panduan hidupnya. Dalam masyarakat modern, kesadaran kolektif lemah berarti bahwa orang tidak dapat melihat arti yang sama dalam hidup mereka, dan mengejar kepentingan individu tak terkendali dapat menyebabkan ketidakpuasan yang kuat. Salah satu hasil ini dapat bunuh diri. Individu yang sangat terintegrasi ke dalam struktur keluarga, kelompok agama, atau beberapa jenis lain dalam kelompok integratif cenderung menghadapi masalah ini, dan yang menjelaskan tingkat bunuh diri lebih rendah di antara mereka. Dalam masyarakat tradisional, dengan solidaritas mekanis, ini tidak mungkin menjadi penyebab bunuh diri. Ada kesadaran kolektif yang kuat memberikan seseorang atau individu arti/makna bagi kehidupan mereka.

Bagi Durkheim, ini adalah fakta social. Seorang individu tidak pernah bebas dari kekuatan kolektivitas: ‘Namun seorang pria individual mungkin, selalu ada sesuatu yang tersisa kolektif – depresi sangat dan melankolis yang dihasilkan dari individualisme berlebihan yang sama.

  1. Bunuh diri altruistik.

Ini adalah jenis bunuh diri yang terjadi ketika integrasi terlalu besar, terlalu kuat kesadaran kolektif, dan “individu dipaksa menjadi bunuh diri”. Integrasi mungkin bukan penyebab langsung bunuh diri di sini, tetapi perubahan sosial yang sangat tinggi dapat mengakibatkan integrasi ini. Pada tipe kedua, individu secara ekstrim melekat pada masyarakat dan karena hal inilah dia tidak lagi memiliki kehidupan pribadinya. Dengan integrasi sosial yang terlampau kuat, individu tidak lagi dipandang kedudukannya, namun justu dipaksa untuk tunduk/patuh sepenuhnya pada tuntutan kelompok-kelompok.Contoh : Para pengikut Jim Jones dari Kuil Rakyat atau anggota Kuil Solar, seperti juga bunuh diri ritual di Jepang. Contoh dalam masyarakat primitif yang dikutip oleh Durkheim adalah bunuh diri dari mereka yang sudah tua dan sakit, bunuh diri perempuan setelah kematian suami mereka, dan bunuh diri pengikutnya setelah kematian seorang kepala suku. Menurut Durkheim jenis bunuh diri sebenarnya mungkin “springs from hope, for it depends on the belief in beautiful perspectives beyond this life.”

  1. Bunuh diri Anomi.

Anomie atau anomy berasal dari bahasa Yunani yang berarti pelanggaran hukum. Nomos berarti penggunaan, adat, atau hukum dan nemein sarana untuk mendistribusikan. Anomy demikian adalah ketidakstabilan sosial yang dihasilkan dari pemecahan standar dan nilai-nilai. (Webster’s Dictionary). Bunuh diri tipe ini terjadi karena tatanan, hukum-hukum, serta berbagai aturan moralitas sosial mengalami kekosongan. Kelemahan aturan sosial antara norma-norma sosial dan individu dan mesti bisa membawa pada perubahan sosial ekonomi yang dramatis bagi individu. Atau dengan kata lain, tidak cukupnya aturan yang ada sebagai ‘penampung’ aspirasi individu. Dari sini kemudian terjadilah semacam frustasi sosial yang kemudian meningkatkan keinginan orang untuk bunuh diri.

Seperti halnya dengan anomi pembagian kerja, ini dapat terjadi ketika bentuk normal pembagian kerja terganggu, dan “kolektivitas untuk sementara tidak mampu melaksanakan kewenangan atas individu-individu.” (Ritzer, hal 92). Hal ini dapat terjadi baik selama periode terkait dengan depresi ekonomi (pasar modal kecelakaan tahun 1930-an) atau ekspansi ekonomi yang cepat. Situasi baru dengan beberapa norma, efek regulatif struktur melemah, dan individu mungkin merasa tanpa akar. Dalam situasi ini, seseorang dapat dikenakan arus sosial anomik. Orang-orang yang dibebaskan dari kendala menjadi “budak nafsu mereka, dan sebagai hasilnya, menurut pandangan Durkheim, melakukan berbagai tindakan destruktif, termasuk bunuh diri dalam jumlah yang lebih besar.” (Ritzer, hal, 92).

Ada empat jenis bunuh diri akibat dari tipe anomik ini, antara lain:

  1. Anomi ekonomis akut (acute economic anomie)yakni kemerosotan secara sporadis  pada kemampuan lembaga-lembaga tradisional (seperti agama dan sistem-sistem sosial pra-industrial) untuk meregulasikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial.
  2. Anomi ekonomis kronis (chronic economic anomie)adalah kemerosotan regulasi moral yang berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama. Misalnya saja revolusi industri yang menggerogoti aturan-aturan sosial tradisional. Tujuan-tujuan untuk meraih kekayaan dan milik pribadi ternyata tidak cukup untuk menyediakan perasaan bahagia. Saat itu angka bunuh diri lebih tinggi terjadi pada orang yang kaya daripada orang-orang yang miskin.
  3. Anomi domestik akut (acute domestic anomie)yang dapat dipahami sebagai perubahan yang sedemikian mendadak pada tingkatan mikrososial yang berakibat pada ketidakmampuan untuk melakukan adaptasi. Misalnya saja keadaan menjadi janda (widowhood) merupakan contoh terbaik dari kondisi anomi semacam ini.
  4. Anomi domestik kronis (chronic domestic anomie)dapat dilihat pada kasus pernikahan sebagai institusi atau lembaga yang mengatur keseimbangan antara sarana dan kebutuhan seksual dan perilaku di antara kaum lelaki dan perempuan. Seringkali yang terjadi adalah lembaga perkawinan secara tradisional sedemikian mengekang kehidupan kalangan perempuan sehingga membatasi peluang-peluang dan tujuan-tujuan hidup mereka.

 

 

  1. Bunuh diri fatalistik.

Aturan sosial adalah sesuatu yang ditanamkan secara lengkap pada individu. Di sana kemudian tidak ada lagi harapan dari perlawanan perubahan pada disiplin yang menyesakkan dari masyarakat. Maka bunuh diri dirasakan sebagai cara untuk lari dari kenyataan ini. “To bring out the ineluctable and inflexible nature of a rule against which there is no appeal, and in contrast with the expression “anomy” which has just been used, we might call it fatalistic suicide”(Durkheim, 239).

Alasan Bunuh Diri

Emile Durkheim merupakan tokoh sosiologi klasik yang terkenal dengan teori bunuh dirinya. Dalam bukunya “SUICIDE” Emile mengemukakan dengan jelas bahwa yang menjadi penyebab bunuh diri adalah pengaruh dari integrasi social. Teori ini muncul karena Emile melihat didalam lingkungannya terdapat orang-orang yang melakukan bunuh diri. Yang kemudian menjadikan Emile tertarik untuk melakukan penelitian diberbagai Negara mengenai hal ini. Peristiwa bunuh diri merupakan kenyataan-kenyataan social tersendiri yang karena itu dapat dijadikan sarana penelitian dengan menghubungkannya terhadap struktur social dan derajat integrasi social dari suatu kehidupan.

Terdapat empat alasan orang bunuh diri menurut Emile Durkheim, yaitu:

  1. Karena alasan agama

Dalam penelitiannya, Durkheim mengungkapkan perbedaaan angka bunuh diri dalam penganut ajaran Katolik dan Protestan. Penganut agama Protestan cenderung lebih besar angka bunuh dirinya dibandingkan dengan penganut agama Katolik. Perbedaan ini dikarenakan adanya perbedaan kebebasan yang diberiakan oleh kedua agama tersebut kepada penganutnya. Penganut agama Protestan memperoleh kebebasan yang jauh lebih besar untuk mencari sendiri hakekat ajaran-ajaran kitab suci, sedangkan pada agama Katolik tafsir agama ditentukan oleh pemuka Gereja. Akibatnya kepercayaan bersama dari penganut Protestan berkurang sehingga menimbulkan keadaan dimana penganut agama Protestan tidak lagi menganut ajaran/tafsir yang sama. Integrasi yang rendah inilah yang menjadi penyebab laju bunuh diri dari penganut ajaran ini lebih besar daripada penganut ajaran bagama Katolik.

  1. Karena alasan keluarga

Semakin kecil jumlah anggota dari suatu keluarga, maka akan semakin kecil pula keinginan untuk terus hidup. Kesatuan social yang semakin besar, semakin besar mengikat orang-orang kepada kegiatan social di antara anggota-anggota kesatuan tersebut. Kesatuan keluarga yang lebih besar biasanya lebih akan terintegrasi.

  1. Karena alasan politik

Durkheim disini mengungkapkan perbedaan angka bunuh diri antara masyarakat militer dengan masyarakat sipil. Dalam keadaan damaiangka bunuh diri pada masyarakat militer cenderung lebih besar daipada masyarakat sipil. Dan sebaliknya, dalam situasi perang masyarakat militer angka bunuh dirinya rendah. Didalam situasi perang masyarakat militer lebih terintegrasi dengan baik dengan disipilin yang keras dibandingkan saat keadaan damai di dalam situasi ini golongan militer cenderung disiplinnya menurun sehingga integrasinya menjadi lemah.

  1. Karena alasan kekacauan hidup (anomie)

Bunuh diri dengan alas an ini dikarenakan bahwa orang tidak lagi mempunyai pegangan dalam hidupnya. Norma atau aturan yang ada sudah tidak lagi sesuai dengan tuntutan jaman yang ada.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Durkheim, The Division of Labor in Society, (1893) The Free Press reprint 1997, ISBN 0-684-83638-6

Durkheim, Suicide, (1897), The Free Press reprint 1997, ISBN 0-684-83632-7

http://monaliasakwati.blogspot.com/2011/07/kajian-durkheim-tentang-solidaritas.html

http://panjangbgt.blogspot.com/2013/11/pengertian-dan-bentuk-bentuk-bunuh-diri.html

 

Mar
26
2015
0

GENDER DAN KETIDAKADILAN

GENDER DAN KETIDAKADILAN

Gerakan feminisme yakni antara pemikiran yang elah menfokuskan sistem dan struktur masyarakat dan di dalamnya ada analisis gender. Menururt Antonio Gramsci membahas ideologi dan kebudayaan dan menggugat keduanya karena dianggap sebagai alat dan bagian dari mereka yang diuntungkan untuk melanggengkan ketidakadilan. Sama halnya dengan Frankfurt mempertanyakan metodologi dan epistimologi positivisme sebagai salah satu sumber dari ketiakadilan. Analisis gender memahami bahwa pokok persoalannya adalah sistem dan strukur yang tidak adil, dimana baik laki-laki maupun perempuan menjadi korban dan mengalami dehumanisasi karena ketidakadilan gender tersebut. Kaum perempuan mengalami dehumanisasi akibat ketidakadilan gender sementara kaum lelaki mengalami dehumanisasi karena melanggengkan penindasan gender.

Pemahaman dan pembeda antara konsep seks dan gender sangatlah diperlukan dalam  melakukan analisa untuk memahami persoalan-prsoalan ketidakadilan sosial yang menimpa kaum perempuan. Ada kaitan erat antara perbedaan gender  dan ketdakadlan gender dengan struktur ketidakadilan masyaakt secara luas. Knsep gender adalah pembagian antara kam laki-laki dan perempuan yang dikntruksi secaa sosial ataupun kultual. Akan ttapi sifat-sifat tersebut bukanlah kodrat, karena tidak abad dan dapat dipertukarkan

Memperjuangkan keadilan gender merupakan tugas berat, karena masalah gender adalah masalah yang sangat intens, dimana kita masing-masing terlibat secara emosional. Banyak terjadi perlawanan manakala perjuangan ketidakadilan gender diaktifkan, karena menggugat masalah gender sesungguhnya juga erat menggugat privilage yang kta dapatkan dari adanya ketidakadilan gender.pesoalannya, spektrum ketidakadilan gender sangat luas, mulai yang ada dikepala dan di dalam keyakinan kita masing-masing, sampai urusan negara.

Dengan demikian bila kita memikirkan jalan keluar, pemecahan masalah gender perlu dilakukan secara serempak. Petama-tama perlu upaya-upaya bersifat jangka pendek yang dapat memecahkan masalah-masalah praktis ketidakadilan tersebut. Sedangkan langkah berikutnya adalah usaha jangka panjang untuk memikirkan bagaimana menemukan cara strategis dalam rangka memerangi ketidakadilan.

Dari segi pemecahan praktis jangka pendek,dapat dilakukan upaya-upaya program aksi yang melibatkan perempuan agar mereka mampu membatasi masalahnya sendiri. Misalnya dalam hal mengatasi masalah marginalisasi perempuan proses pemiskinan terhadap kaum perempuan di pelbagai proyek. peningkatan pendapatan kaum perempuan, perlu melibatkan kaum perempuan dalam proram pengembangan masyarakat, serta berbagai kegiatan yang memungkinkan kau perempun terlibat dan menjalankan kekuasaan di sektor publik. Marginalisasi yang disebabkan oleh perbedaan gender adalah adanya program dibidang pertanian misalnya : revolusi hijau yang menfokuskan pada petani laki-laki mengakibatkan banyak perempuan tergeser dan menjadi miskin.

Akan halnya yang menyangkut subordiasinya perempuan, perlu diupayakan pelaksanaan pendidikan dan mengaktifkan berbagai organisasi atau kelompok perempuan untuk jangka pendek. Subordinasi adalah anggapan yang tidak penting dalam keputusan politik. Perempuan tersubordinasi oleh faktor-faktor yang dikonstruksikan secara sosial. Hal ini karena disebabkan belum terkondisikannya konsep gender dalam masyarakat yang mengakibatkan adanya diskriminasi kerja bagi perempuan. Bentuk subordinasi terhadap perempuan yang menonjol adalah bahwa semua pekerjaan yang dikatagorikan sebagai reproduksi dianggap lebih rendah dan menjadi subordinasi dari pekerjaan produksi yang dikuasai oleh kaum laki-laki.

Untuk menghentikan masalah kekerasan, pelecehan dan pelbagai stereotipe terhadap kaum perempuan, suatu aksi jangka pendek juga perlu mulai digalakkan. Kaum perempuan sendiri harus mulai memberikan pesan penolakan secara tegas kepada mereka yang melakukan kekerasan dan pelecehan agar tindakan kekerasan danpelecehan tersebut terhenti. Membiarkan dan menganggap biasa terhadap kekerasan dan pelecehan bearti mengajarkan dan bahkan mendorong para pelaku untuk melanggengkannya. Pelaku penyiksaan, pemerkosaan dan pelecehan seringkali salah kaprah bahwa ketidaktegasan penolakan dianggapnya karena diam-diam perempuan juga menyukainya. Perlu kiranya dikembangkan kelompok perempuan yang memungkinkan mereka saling membahas dan saling membagi rasa pengalaman untuk berperan menghadapi masalah kekerasan dan pelecehan. Karena kekerasan, pemerkosaan, pelecehan dan segala bentuk yang merendahkan kaum perempuan bukan semata-mata salah kaum perempuan, maka usaha untuk menghentikan secara bersama perlu digalakkan.

Termasuk ke dalam kegiatan praktis jangka pendek adalah mempelajari pelbagai teknik oleh kaum perempuan sendiri guna menghentikan kekerasan, pemerkosaan dan pelecehan. Misalnya mulai membiasakan diri mencatat setiap kejadian dalam buku harian, termasuk sikap penolakan dan responsi yang diterima, secara jelas kapan dan di mana. Catatan ini kelak akan berguna jika peristiwa tersebut ingin di proses secara hukum. Usaha seperti menyuarakan pendapat ke kolom “surat pembaca” perlu diintensifkan. Usaha ini tidak saja memiliki dimensi praktis jangka pendek tetapi juga sebagai upaya pendidikan dengan cara kampanye antikekerasan dan antipelecehkan terhadap kaum perempuan bagi masyarakat luas. Secara praktis dalam surat-surat itu harus tersirat semacam ancaman, yakni jika pelecehan dan kekerasan tidak segera dihentiakan, maka kejahatan semacam itu bisa dan akan dilaporkan ke penguasa pada tingkatan yang lebih atas. Kesankan bahwa anda tidak sendiri melainkan suatukelompok perempuan yang tengah menyadari hal itu. Suatu kelompok atau oganisasi lebih sulit diintmidasiketimbang individu.

Usaha perjuangan strategis jangka panjang perlu dilalukan untuk memperkokoh usaha praktis tersebut. Mengingat usaha-usaha praktis di atas sering kali justru berhenti dan tidak berdaya hasil karena hambatan ideologis, misalnya bias gender, sehingga sistem masyarakat justru akan menyalahkan korbannya, maka perjuangan strategis ini meliputi pelbagai peperangan ideologis dimasyarakat. Bentuk-bentuk peperangan tersebut misalnya dengan melancarkan kampanye kesadaran kritis dan pendidikan umum masyarakat untuk menghentikan pelbagai bentuk ketidakadilan gender dan manifestasinya baik di masyarakat, negara maupun rumah tangga. Bahan kajiannya ini selanjutnya dapat di pakai untuk melakukan advokasi guna mencapai pereubahan kebijakan, hukum dan aturan pemerintah yang dinilai tidak adil terhadap kaum perempuan.

Gender dan beban kerja yang lebih berat dengan berkembangnya wawasan kemitrasejajaran berdasarkan pendekatan gender dalam berbagai aspek kehidupan, maka peran perempuan mengalami perkembangan yang begitu pesat. Namun perlu dicemati bahwa perkembangan perempuan tidaklahmengubah peranannya yang lama yaitu peranan dalam lingkup rumah tangga. Maka perkembangan perempuan disini sifatnya menambah dan umumnya perempuan meerjakan peranan sekaligus untum memenuhi tuntutan pembangunan. Mereka bekerja berat tanpa adanya perlindungn dan kebijan negara. Selain tanpa perlindungan hubungan mereka bersifat feodallistik dan perbudakan, serta masalahnya belum bisa secara ransparan dilihat oleh masyarakat luas.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Trisakti handayani, sugiarti. Konsep dan eknik penelitian gender. 2001. Malang. Pusat Studi Wanita dan Kemasyarakatan UMM

Mansour fakih. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. 2012. Yogyakarta. Pustaka Pelajar Offset

Mar
26
2015
0

NEGARA BARU

NEGARA BARU ATAU MENJAJAHAN MODEL BARU?

Negara baru adalah negara yang terbentuk setelah perang dunia kedua dan atau pada saat perang dingin berlangsung. Dan negara ini biasa disebut Negara Dunia Ketiga, istilah dunia ketiga muncul selama perang dingin untuk menentukan yang tetap tidak selaras dengan baik terhadap Nato (Amerika Serikat, negara-negara Eropa Barat dan sekutu yang mereka wakili sebagai Dunia Pertama), atau Blok Komunis (dengan Uni Soviet, Cina, Kuba, dan sekutu yang mereka wakili sebagai Dunia Kedua). Pengertian ini memberikan jalan luas dalam mengkatagorikan negara-negara di bumi menjadi tiga kelompok berdasarkan divisi sosial, politik, budaya dan ekonomi. Dunia Ketiga biasanya dipandang untuk mengkatagorikan banyak negara dengan masa lalu kolonial seperti Afrika, Amerika Latin, Oceania, dan Asia. Istilah ini juga kadang-kadang di ambil yang identik dengan negara-negara Non-Blok. Atau dalam bahasa sekarang ini Negara berkembang yang notabene negara yang masih tertinggal dari tiga segi yang sudah saya sebutkan tadi akan tetapi ada juga negara yang sudah dkatakan maju tapi masih menggantungkan semuanya pada negara Dunia Pertama seperti bahan produksinya masih di Impor dari negara yang pernah menjajah negara atau Negara Dunia Pertama tersebut. Negara baru ini rata bekas jajahan negara Dunia Pertama yang ada di Eropa.

Sampai saat ini penjajahan itu masih terus terjadi walaupun tidak secara langsung dalam artian penjajahan secara fisik. Dewasa ini penjajahan lebih tergolong sadis kenapa? Karena Negara Dunia Pertama bisa menguasai Negara Dunia Ketiga dengan tidak terlihat oleh masyarakat Dunia akan tetapi Negara Dunia Pertama ingin menguasai dari semua sektor sektor yang paling menjajikan yaitu seperti politik karena dari situ mereka bisa hampir menguasai atau bisa menyetir negara dunia ketiga dalam semua sektor yang ada di Negara tersebut. Dan yang paling diminati adalah sektor ekonomi yang mana para Negara-negara dunia ketiga umumnya berada di bawah penjajahan bangsa Eropa. Eksistensi negara-negara tersebut terwujud dan diperjuangkan melalui perang melawan bangsa penjajah. Karena itu, keadaan ekonomi di negara-negara dunia ketiga sangat terbelakang akan tetapi sumber daya alam mereka biasanya melimpah ini lah yang membuat negara dunia pertama tertarik. Berbagai sumber daya alam dieksploitasi untuk kepentingan Negara-negara dunia pertama alias penjajah. Setelah Perang Dunia II pun negara-negara Barat (dunia pertama) dan negara-negara komunis (dunia kedua) berusaha dan bersaing menguasai negara-negara dunia ketiga. Kita ambil contoh negara Indonesia.

Indonesia yang notabene sudah merdeka dan yang mana kemerdekaannya di bantu oleh pihak Amerika Serikat akan tetapi pemerintah Amerika Serikat yang awalnya di kira membantu malah ternyata menjajah Indonesia dengan model baru. Dengan menguasai sektor-sektor penting dalam negara ini seperti ekonomi yang sudah sejak masa Orde Baru potensi hasil bumi kita di ambil alih oleh Amerika Serikat. Kita mulai dari penambangan mas yang ada di Papua sejak mulai 1973 hingga sampai saat ini perusahaan tambang mas asal Amerika Freeport yang menguasai Tambang mas terbesar tersebut, akan tetapi mulai tahun 1995 saja mereka baru mengakui bahwa mereka menambang mas selebihnya dari tahun 1973 sampai 1994 mereka mengaku hanya menambang tembaga, dan Indonesia sama sekali tidak tau itu juga bahkan Papua sendiri tidak mengetahuinya. Kegiatan penambangan tersebut sudah membuat keuntungan finansial yang sangat besar untuk Freeport itu sendiri,tidak berdampak sama sekali kepada daerah sekitar perusahaan itu. Setiap hari Freeport bisa menambang sebanyak 700 ribu ton untuk mendapatkan 225 ribu ton bijih mas. Freeport terus mengeruk untung dari tambang mas, perak dan juga tembaga, dan itu adalah penghasilan utama mereka dari tambang Indonesia. Tidak hanya PT Freeport ada juga Exxonmobile, bahkan ini lebih parah Indonesia sama sekali tidak mendapatkan untuk bekerjasam dengan Exxonmobile karena dilihat dari perjanjiannya bagi hasilnya yaitu 100:0. Alasannya, eksploitasi D-Alpha Natuna membutuhkan investasi biaya yang besar dan biaya pemisahan CO2 sangat tinggi. Sedangkan potensi penjualan gas saat itu masih rendah. Karena itu, bagian 100% keuntungan bagi kontraktor dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Lalu bagaimana dengan California Texas (Caltex) yang di Riau, entahlah berapa sumber daya bangsa ini sudah dipreteli satu persatu oleh pihak Amerika Serikat dengan tidak meninggalkan sedikitpun keuntungan untuk indonesia itu sendiri.

Malaysia yang tergabung dalam negara persemakmuran Inggris yang bisa dikatakan merdeka akan tetapi mereka masih dikendalikan oleh kerajaan Inggris. Bukti Malaysia Masih dijajah British.

  1. Malaysia masih rutin mengirimkan pasukan tetaranya untuk menjaga istana buckingham di inggris.
  2. UMNO, Partai yg berkuasa di malayria, kepanjangan UMNO adalah united malay national organization, nah yg aneh adalah mereka itu partai melayu tapi tidak punya nama melayu, mereka lebih memilih nama umno dlm bhs inggris karna umno adalah kepanjangan dari pemerintah british.
  3. BN!, atau barisan nasional, adalah koalisi pendukung UMNO yg sebenarnya juga kepanjangan pemerintah inggris, karna nama aslinya adalah British National Government, bukan barisan nasional.
  4. Perjanjian sewa tanah, malaysia sebenarnya menyewa tanah negaranya saat ini, selain perjanjian sewa menyewa dengan inggris yg akan berakhir 999 tahun lagi, malaysia juga menyewa tanah sabah ke kerajaan sulu filipina.

Negara Malaysia dibentuk di atas sebuah perjanjian antara Inggris dan Malaysia. Pasal VI perjanjian yang ditandatangani di London pada 9 Juli 1963 tertera:Pemerintah Malaysia harus mengizinkan pemerintah Inggris menggunakan haknya dalam meneruskan pemeliharaan pangkalan-pangkalan militer dan fasilitas-fasilitas yang kini dipegang oleh penguasa militer Inggris di Singapura dan pemerintah Malaysia harus mengizinkan pemerintah Inggris mempergunakan pangkalan-pangkalan tersebut jika sewaktu-waktu Inggris perlu. Selain itu, Malaysia mengizinkan Inggris menyewa tanah selama 999 tahun untuk dijadikan pangkalan militer. Sebagai contoh, Naval Base Sembawang 999 tahun. Kanji juga 999 tahun. Di samping itu, masih banyak tempat lain: Loyang Yurongbukittombok, Mount Faber, dll. Jika perjanjian itu ditandatangani tahun 1963, dan berlaku untuk 999 tahun ke depan, itu artinya, Malaysia masih menjadi negara “jajahan” Inggris sampai tahun 2962 Masehi.

Itu lah contoh negara-negara yang dari segi mengurusi negara merasa sudah merdeka akan tetapi dalam kenyataannya malah masih dijajah dalam segi ekonomi dan juga politik. Negara tetap masih di setir oleh pihak asing dan seperti contohnya bahwa hasil sumber daya alam kita pun di nikmati oleh pihak asing sendiri bahkan negara yang memilikinya tidak menikmati hasil dari tanahnya sendiri. Dan kebanyakan masyarakat dunia tidak tau kalo itu adalah penjajahan model baru. Jadi menurut saya negara baru yaitu negara yang walaupun sudah merdeka akan tetapi mereka belum bisa berdiri sendiri dalam artian mengolah hasil tanah dan kekayaan mereka itu sendiri dan masih bergantung pada negara barat yang melakukan kolonialisasi yang merugikan negara dan mengnyengsarakan rakyat.

DAFTAR PUSTAKA

Richard W. Mansbach dan Kirsten L. Rafferty. Pengantar Politik Global : Introduction to Global Politics. Bandung. PT. Nusa Media, 2012.

Prof. Meriam Budiardjo. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008

Zainuddin. A Rahman. Kekuasaan Dan Negara : Pemikiran politik Ibnu Khaldun. PT Gramedia Pustaka Utama, 1992

Mar
26
2015
0

MAX WEBBER-DEFINISI SOSIOLOGI

MAX WEBBER-DEFINISI SOSIOLOGI

Menurut webber sosiologi adalah ilmu penetahuan yan berusaha atau bertujuan untuk memahami tindakan sosial secara interpretatif agar dapat di peroleh penjelasan tentang sebab-sebab, proses-proses, dan alat-alat dari tindakan tersebut. Dalam kaitanya dengan sosiologi, Max weber adalah seorang tokoh sosiologi yang telah mencetuskan paradigma definisi Sosial untuk melihat realitas sosial.

Menurutnya Sosiologi merupakan studi tentang tindakan sosial antar hubungan sosial. Inti thesis nya adalah tindakan yang penuh arti dari individu. Tindakan sosial adalah semua tindakan manusia dimana seseorang atau pun beberapa orang yang terlihat di dalamnya memberi arti subyektif pada tindakan tersebut. Tindakan tersebut itu bisa bersifat internal dan eksternal ataupun aktif maupun pasif.

Tindakan Sosial yang dimaksudkan Weber dapat berupa tindakan yang nyata-nyata diarahkan kepada orang lain. Juga dapat berupa tindakan yang bersifat ”membatin” atau bersifat Subyektif yang mungkin terjadi karena pengaruh positif terhadap situasi terentu, atau merupakan pengulangan dengan sengaja sebagi akibat dari pengaruh situasi yang serupa. Atau berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu. Bertolak dari konsep dasar tentang ”tindakan sosial dan antara hubungan sosial” itu, Weber mengemukakan ada lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian sosiologi:

  1.  tindakan manusia, yang menurut si aktor mengandung makna yang subyektif. Ini meliputi tindaka nyata
  2.  tindakan nyata yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat membatin dan bersifat subyektif.
    3.    tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu istuasi, tindakan yang sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam.
  3.  tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada individu.
  4.  tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu.

 

 

 

 

Weber membedakan tindakan sosial manusia ke dalam empat tipe yaitu:

 

  1. Tindakan rasionalitas instrumental(Zwerk Rational)

 

Tindakan ini merupakan suatu tindakan sosial yang dilakukan seseorang didasarkan atas pertimbangan dan pilihan sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan ketersediaan alat yang dipergunakan untuk mencapainya. Contohnya : Seorang siswa yang sering terlambat dikarenakan tidak memiliki alat transportasi, akhirnya ia membeli sepeda motor agar ia datang kesekolah lebih awal dan tidak terlambat. Tindakan ini telah dipertimbangkan dengan matang agar ia mencapai tujuan tertentu. Dengan perkataan lain menilai  dan  menentukan  tujuan  itu dan bisa saja  tindakan  itu dijadikan sebagai cara untuk mencapai  tujuan  lain.

 

  1. Tindakan rasional nilai (Werk Rational)

 

Sedangkan tindakan rasional nilai memiliki sifat bahwa alat-alat yang ada hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan yang sadar, sementara tujuan-tujuannya sudah ada di dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut. Contoh : perilaku beribadah atau seseorang mendahulukan orang yang lebih tua ketika antri sembako. Artinya, tindakan sosial ini telah dipertimbangkan terlebih dahulu karena mendahulukan nilai-nilai sosial maupun nilai agama yang ia miliki.

 

  1. Tindakan  afektif/Tindakan yang dipengaruhi emosi  (Affectual Action)

 

Tipe tindakan sosial ini lebih didominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan sadar.Tindakan afektif sifatnya spontan, tidak rasional, dan merupakan ekspresi emosional dari individu. Contohnya: hubungan kasih sayang antara dua remaja yang sedang jatuh cinta atau sedang dimabuk asmara.Tindakan ini biasanya terjadi atas rangsangan dari  luar yang bersifat otomatis sehingga bias berarti

 

 

 

 

 

  1. Tindakan  tradisional/Tindakan karena kebiasaan (Traditional Action) 

 

Dalam tindakan jenis ini, seseorang memperlihatkan perilaku tertentu karena kebiasaan yang diperoleh dari nenek moyang, tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan. Tindakan pulang kampong disaat lebaran atau Idul Fitri.

 

CARA BERPIKIR TRADISIONAL DAN MODERN

Max Weber mengakui peran teknologi bagi perkembangan masyarakat. Weber juga mengakui konflik bersifat inheren di tiap masyarakat. Namun, Weber tidak sepakat dengan determinisme ekonomi Marx. Jika Marx menganut materialisme historis, maka Weber dapat dikatakan menganut idealisme historis. Bagi Weber, masyarakat terbentuk lewat gagasan atau cara berpikir manusia. Dalam hal ini, Weber bertolak belakang dengan Marx yang justru mengasumsikan gagasan tidak lebih proyeksi cara-cara produksi ekonomi.

 

Konsep yang diperkenalkan Weber adalah tipe ideal (ideal typhus). Makna ideal typhus adalah pernyataan abstrak mengenai ciri-ciri esensial tiap fenomena sosial. Masyarakat pemburu dan peramu, hortikultural dan pastoral, agraris, industrial, dan posindustrial adalah contoh dari tipe ideal. Ideal, dalam maksud Weber, bukan berarti baik atau buruk. Tipe ideal lebih merupakan cara mendefinisikan sesuatu. Dengan mengajukan tipe ideal atas setiap fenomena sosial, seseorang dapat melakukan perbandingan antara masyarakat satu dengan masyarakat lain, atau bahkan mendorong perubahan suatu masyarakat kepada tipe ideal yang dikehendaki. Tipe ideal atas suatu fenomena sosial mendorong terciptanya gagasan baru: Tipe ideal adalah gagasan.

 

Organisasi rasional Weber merupakan contoh dari gagasan. Saat menggagasnya, organisasi ini belum muncul di kenyataan tatkala Weber mengamati pola kerja pegawai publik dalam Dinasti Hohenzollern yang saat itu menjalankan pemerintahan Prussia. Sistem kerja dinasti tersebut bercorak patrimonial di mana ketaatan seorang pejabat publik bukan pada pekerjaan melainkan pada personalitas tokoh-tokoh politik (patron). Gagasan Weber adalah cara kerja ini harus digantikan dengan yang lebih rasional, di mana ketaatan kepada personal harus digantikan dengan ketaatan atas peraturan impersonal. Organisasi yang diajukan Weber adalah organisasi legal-rasional. Kata birokrasi bukan berasal dari Weber karena ia tidak pernah menyebut kata birokrasi dalam karyanya. Namun, kata birokrasi kini kerap dihubung-hubungkan dengan gagasan Weber.

 

Dalam menganalisis masyarakat, Weber menekankan bagaimana orang berpikir tentang dunia kontekstualnya. Individu dalam masyarakat pra industri terikat oleh tradisi, sementara pada masyarakat industrial diikat rasionalitas. Tipe ideal Weber mengenai tradisi adalah nilai serta kepercayaan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Masyarakat tradisional terbentuk tatkala para anggotanya diarahkan oleh masa lalu atau merasakan ikatan kuat pada cara hidup yang sudah bertahan lama (tradisi). Gagasan seperti tindakan baik atau buruk ditentukan apa yang telah diterima dari masa sebelumnya. Sebaliknya, orang-orang yang hidup di masa lebih kemudian (modern), lebih mengedepankan rasionalitas, yang maknanya adalah – menurut Weber – cara berpikir yang menekankan kesengajaan, berupa perhitungan pasti seputar cara-cara yang lebih efektif dalam merampungkan pekerjaan.

 

Ketergantungan pada hal-hal sentimentil pada masyarakat tradisional tidak beroleh tempat di masyarakat modern. Orang modern berpikir dan bertindak berdasarkan efeknya bagi masa kini dan masa mendatang, bukan masa lalu. Dengan demikian, Weber mengajukan pendapatnya mengenai rasionalisasi masyarakat yang didefinisikannya sebagai perubahan historis gagasan manusia (idealisme historis) dari tradisi menuju rasionalitas. Weber menggambarkan masyarakat modern sebagai sama sekali baru karena mengembangkan cara pikir ilmiah yang menyapu jauh-jauh segala ikatan sentimental atas masa lalu.

 

Apakah digunakannya suatu teknologi mengindikasikan modern-nya suatu masyarakat? Bagi Weber jawabannya belum tentu karena teknologi hanya maksimal dimanfaatkan jika masyarakat penggunanya paham akan peran teknologi tersebut bagi dunianya. Apa gunanya komputer bagi masyarakat yang masih menggantungkan dirinya pada hubungan langsung dengan alam seperti masyarakat pemburu-peramu?

 

Dalam menyikapi masyarakat industrial Weber berbeda pendapat dengan Marx. Weber memandang masyarakat industrial sepenuhnya rasional karena kapitalis punya kemampuan mengkalkulasi aspek untung-rugi suatu kegiatan produksi. Kalkulasi mereka lakukan sebelum uang diinvestasikan ke dalam kegiatan produksi. Sebaliknya, Marx justru menganggap masyarakat industrial sebagai irasional karena masyarakat ini gagal memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar mayoritas anggotanya.

 

Konsep Weber selanjutnya adalah organisasi sosial rasional. Tekanannya atas rasionalitas sebagai ciri masyarakat modern, mendorong Weber mengidentifikasi tujuh ciri organisasi sosial yang dibentuk masyarakat modern, yaitu:

  1. Munculnya lembaga sosial spesifik. Dalam masyarakat tradisional, keluarga adalah satu-satunya pusat kegiatan dalam masyarakat. Secara berangsur, sistem agama, politik, dan ekonomi mulai memisahkan diri dari sistem keluarga. Aneka sistem yang memisahkan diri ini lalu menjadi otonom bahkan menciptakan regulasi otentiknya masing-masing. Sistem-sistem baru menjamin terpenuhinya kebutuhan anggota masyarakat secara lebih efektif dan efisien.
  2. Organisasi skala besar. Masyarakat modern ditandai menyebarnya aneka organisasi sosial berskala besar. Contohnya birokrasi negara yang mampu menjangkau wilayah luas dan berpopulasi (anggota organisasi) besar, organisasi industri yang mempekerjakan ribuan orang, ataupun lembaga pendidikan yang mendidik anggota masyarakat lintas keturunan keluarga.
  3. Spesialisasi pekerjaan. Masyarakat modern dicirikan diferensiasi dan speasialisasi tugas yang semakin rumit. Dalam masyarakat modern tidak aneh ada profesi penyapu jalan, penjaga WC umum, tukang sampah hingga presiden.
  4. Disiplin pribadi. Disiplin pribadi merupakan hal yang dihargai dalam masyarakat modern. Namun, kedisiplinan juga ditentukan oleh nilai-nilai budaya yang dianut, semisal prestasi atau kesuksesan yang dipandang tinggi suatu masyarakat.
  5. Penghargaan atas waktu. Masyarakat tradisional dicirikan ketundukan pada peredaran matahari atau musim. Masyarakat modern melangkah lebih jauh dengan membagi waktu berdasarkan jam bahkan menit (kadang detik, dalam dunia teknologi informasi). Siklus kerja masyarakat modern tidak lagi ditentukan peredaran matahari dan musim. Dalam pabrik misalnya, dikenal tiga shift: Pagi, siang, dan malam.
  6. Kompetensi teknis. Masyarakat tradisional ditengarai oleh latar belakang keluarga (keturunan siapa). Masyarakat modern ditengarai oleh latar belakang kompetensi teknis, kemampuan melakukan suatu pekerjaan. Profesionalitas menjadi alat ukur utama dalam memandang seseorang, bukan asal-usul keturunannya (bibit).
  7. Masyarakat modern menentukan pola hubungan berdasarkan profesionalitas (kemampuan teknis) dalam pasar kerja. Dengan demikian, manusia menjadi impersonal akibat hanya dikenali berdasarkan kemampuan teknis bukan kediriannya yang utuh. Perasaan semakin dijauhkan dalam hubungan masyarakat rasional.

 

Bagi Weber, kapitalisme, birokrasi, dan ilmu pengetahuan adalah ekspresi (perwujudan) dari gagasan utama masyarakat modern: Rasionalitas. Namun, layaknya Marx, Weber juga menemukan potensi alienasi (keterasingan) individu di dalam masyarakat yang rasional ini. Jika Marx menjelaskan alienasi tercipta akibat ketimpangan ekonomi, maka bagi Weber alienasi tercipta sebagai hasil operasi organisasi rasional. Organisasi rasional memperlakukan manusia melulu sebagai angka, tugas, jabatan, atau kompetensi ketimbang keunikan individualitas manusiawi mereka. Kepastian, impersonalitas, keterukuran, dan predictability masyarakat modern yang rasional membuat Weber khawatir manusia kehilangan aspek kemanusiaannya.

 

STRATIFIKASI SOSIAL

Stratifikasi sosial, secara harfiah berasal dari bahasa latin stratum (tingkatan) dan   socius (teman atau masyarakat). Stratifikasi sosial menempatkan seorang individu/kelompok pada kelas-kelas sosial sosial yang berbeda-beda secara hierarki dan memberikan hak serta kewajiban yang berbeda-beda pula antara individu pada suatu lapisan sosial lainnya. Stratifikasi sosial muncul karena adanya sesuatu yang dianggap berharga dalam masyarakat.

Max Webber, stratifikasi sosial adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese, dan prestise.  Atau juga pengetahuan orang-orang secara hirarkis sistem pengetahuan masyarakat secara hirarkis merupakan sesuatu yang sangat mendasar bagi webber

Ada 3 pokok stratifikasi yang berbeda

  1. Webber setuju dengan pemikiran karl marx bahwa masyarakat menjadi 2, yaitu yang dibagi menurut alat produksinya. Kemudian pendapat mark diperluas oleh webber bukan hanya dengan peralatan produksi juga di kaitkan dengan benda ekonomi atau kekayaan. Webber juga mengaku pentingnya stratifikasi sosial sebagai dasar yang fundamental untuk kelas dan para anggota dari kelas yang sama ini akan memiliki kesadaran kelas (posisi ekonomi)
  2. Orang yang dapat di golongkan dalam stratifikasi sosial berdasarkan kehormatan atau prestise yang kemudian dapat disamakan dengan daya hidup (kehormatan)
  3. Kekuasan politik, kekuasan kemampuan untuk memaksakan kehendak meskipun mendapat tentangan dari orang lain.
  4. Ukuran ilmu pengetahuan, Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.
  • Dampak positif

Pelapisan sosial merupakan hal yang tidak dapat diabaikan. Pelapisan sosial memberikan dampak positif jika dilakukan untuk mencapai tujuan bersama, dengan adanya pelapisan sosial mayarakat dalam satu organisasi dituntut untuk dapat menjalankan kewajiban dan mendapatkan hak mereka. Dengan system pelapisan sosial ini, maka akan terjalin kerja sama yang bersifat mutualisme.

  • Dampak negative

Pelapisan sosial bagi sebagian kalangan merupakan dampak negative. Terjadinya kesenjangan sosial antar kalangan dalam masyarakat merupakan bukti kongkrit bahwa pelapisan sosial memberikan dampak buruk. Ideology seperti inilah yang membuat terjadinya banyak keributan dan permasalahan yang berasal dari sikap kesenjangan sosial. Kalangan kelas atas yang memandang rendah kalangan bawah semakin memperparah situasi, masyarakat bawah yang tidak menerima dirinya berada di bawah merasa cemburu kepada orang lain yang berada di atas. Akibatnya, terjadilah tindakan-tindakan kriminal. Sikap saling tidak menghargai orang lain seperti itu dapat menimbulkan perpecahan dalam masyarakat.

PROTESTAN ETIK

Etika Protestan adalah sebuah konsep dan teori dalam teologisosiologiekonomi, dan sejarah yang mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budayadisekitarnya, khususnya nilai agama. Dalam agama Protestan yang dikembangkan olehCalvin ada ajaran bahwa seorang manusia sudah ditakdirkan sebelumnya sebelum masuk kesurga atau ke neraka. Hal tersebut ditentukan melalui apakah manusia tersebut berhasil atau tidak dalam pekerjaannya di dunia. Adanya kepercayaan ini membuat penganut agama Protestan Calvin bekerja keras untuk meraih sukses.[1]

Inilah yang disebut sebagai Etika Protestan oleh Max Weber dalam bukunya Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, yakni cara bekerja yang keras dan bersungguh-sungguh, lepas dari imbalan materialnya. Teori ini merupakan faktor utama munculnya kapitalisme di Eropa. Untuk selanjutnya Etika Protestan menjadi konsep umum yang bisa berkembang di luar agama Protestan itu sendiri. Etika protestan menjadi sebuah nilai tentang kerja keras tanpa pamrih untuk mencapai sukses.

            Kaum Marxisme menegaskan bahwa agama Protestant merupakan suatu refleksi ideologis dari perubahan-perubahan ekonomi yang didatangkan dengan perkembangan awal kapitalisme. Dengan menolak hal ini sebagai suatu titik pengelihatan yang wajar, karya Weber bermula dari keganjilan penyimpangan yang jelas terlihat dan yang diidentifikasinya serta penjelasannya merupakan orisinalitas sebenarnya dari Etika Protestan. Biasanya demikianlah bahwa mereka yang hidupnya terpaut dengan kegiatan ekonomi dan dengan pengejaran keuntungan, bersikap acuh tidak acuh terhadap agama, bahkan suka bermusuhan dengan agama, karena kegiatan-kegiatan mereka tertuju pada dunia ‘materil’. Akan tetapi agama Protestan disiplin yang lebih keras daripada penganut agama Katolik, dan dengan demikian memasukkan suatu faktor keagamaan di semua bidang kehidupan para penganutnya. Dari sini dapat dilihat hubungan antara agama Protestan dengan kapitalisme modern. Bahwa kepercayaan-kepercayaan dalam agama Protestan telah merangsang kegiatan ekonomi. Contoh: Berkembang dan suksesnya kapitalisme di Eropa merupakan contoh nyata dari penerapan teori ini. Pada awal mulanya kapitalisme muncul karena adanya ajaran Protestan oleh Calvin yang mengajarkan bahwa untuk dapat masuk surga nantinya, manusia harus berbuat kebaikan sebanyak mungkin didunia. Hal ini membuat orang-orang termotivasi untuk bekerja keras dan bersungguh-sungguh untuk memperoleh sesuatu. Hal ini nantinya akan berdampak pada pembangunan ekonomi.

Berbagai bentuk lain dari kapitalisme yang ditemukan oleh Weber, semuanya didapatkan dalam masyarakat-masyarakat yang ditandai secara khas oleh ‘tradisionalisme ekonomi’. Sikap-sikap terhadap kerja, yang menandai secara khas tradisionalisme, dijelaskan secara grafis, oleh pengalaman majikan-majikan kapitalisme modern, yang telah berusaha memperkenalkan metode-metode produksi kontemporer ke dalam komunitas-komunitas yang belum pernah mengenal metode-metode tersebut sebelumnya.

Bilamana sang majikan tertarik untuk memperoleh daya upaya yang setinggi-tingginya, memperkenalkan suatu Sistem upah|pengupahan]] menurut satuan hasil kerja, sehingga para pekerja secara potensial dapat meningkatkan pendapatannya jauh di atas penghasilan yang mereka bisa peroleh, seringkali hasil dari cara pengupahan ini, ialah kemunduran jumlah kerja dan bukan kebalikannya. Pekerja tradisional tidak berpikir dalam konteks untuk berusaha meningkatkan upah hariannya setinggi mungkin. Tetapi dia lebih memikirkan berapa banyak pekerjaan yang harus dia lakukan agar bisa memperoleh penghasilan yang bisa menutupi kebutuhan biasanya. Orang tidak secara “alamiah” menghendaki berpenghasilan banyak, akan tetapi dia ingin hidup sebagaimana biasa dia hidup, serta sebagaimana dia sudah terbiasa untuk hidup dan mendapatkan penghasilan sesuai dengan kebutuhan kehidupan biasanya. Jadi tradisionalisme sama sekali bertolak belakang dengan ketamakan untuk memperoleh kekayaan.

Weber juga berpendapat bahwa, keserakahan pribadi terdapat di semua masyarakat, dan dalam kenyataan keserakahan itu lebih menjadi ciri khas dari masyarakat pra-kapitalis dari pada masyarakat kapitalis. Kapitalisme modern, pada kenyataannya bukan didasarkan atas pengejaran keuntungan yang tidak bermoral, akan tetapi berdasarkan kewajiban bekerja dengan disiplin sebagai suatu tugas.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ritzer, G  dan Goodman Douglas  J.  2005.  Teori Sosiologi Modern.  Terjemahan

Alimandan.  Jakarta: Prenada Media.

 

Soekanto, S. 1995. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

 

http://khairulazharsaragih.blogspot.com/2014/01/tindakan-sosial-menurut-max-weber.html

 

 

Mar
26
2015
0

KARL MARX-DIALEKTIKA

KARL MARX-DIALEKTIKA

 

Dialektika adalah cara berfikir dan citra tentang dunia. Sebagai cara berpikir, dialektika menekankan arti penting dari proses, hubungan,, dinamika, konflik dan kontradiksi cara berpikir yang lebih dinamis. Disisi lain, dielektika adalah pendangan bahwa dunia bukan tersusun dari struktur yang statis, tetapi terdiri dari proses, hubungan, dinamika, konflik dan kontradiksi. Meski gagasan dialektika dihubungkan dengan Hegel, namun ia sudah ada dalam filsafat sejak dulu. Marx yang terdidik dalam tradisi Hegelian, mengakui arti penting dialektika. Namun, ia mengkritik beberapa aspek dari cara yang dipakai Hegel. Misalnya, Hegel cenderung menerapkan dialektika hanya pada dunia gagasan, sedangkan Marx merasa bahwa dialektika dapat diterapkan pula pada aspek kehidupan yang lebih bersifat material seperti pada aspek ekonomi.Proses dialektika adalah suatu contoh yang ada di dalam dunia. Dialektika adalah suatu fakta empiris, manusia mengetahuinya dari penyelidikan tentang alam, dikuatkan oleh pengetahuan lebih lanjut tentang hubungan sebab musabab yang dibawahkan oleh ahli sejarah dan sains.

Dialektika Marx sebenarnya mengemukakan bahwa perkembangan masyarakat feodalisme ke masyarakat borjuasi atau kapitalisme dan seterusnya ke msyarakat sosialisme merupakan suatu kelanjutan yang tidak dapat dielakkan.Tetapi ini tidak berarti bahwa manusia berdiam diri saja dengan menanti perkembangan itu berjalan sebagaimana maunya.Kelas-kelas itu sendiri adalah kelas-kelas yang berjuang untuk kelasnya, jadi manusia yang dilihat Marx adalah manusia yang berbuat.Bagi Marx masalah pokok bukanlah memahami sejarah atau dunia ini, melainkan bagaimana mengubahnya. “manusia membuat sejarahnya sendiri”.

Oleh sebab itu, maka revolusi yang digambarkan oleh Marx itu terdiri dari dua tahap.Tahap pertama adalah revolusi yang dipelopori oleh golongan Borjuis yang hendak menghancurkan feodal.Tahap kedua adalah revolusi yang dilakukan oleh kelas pekerja dalam menghancurkan golongan borjuis.Dengan lenyapnya kelas borjuis, fungsi pemerintahan tidak lagi mempunyai sifat politik. Kelas pekerja yang memegang kekuasaan itu pun tidak lagi merupakan kelas, sehingga tidak ada kelas yang ditindas dan negara akan lenyap. Masing-masing orang akan melakukan kewajibannya sesuai dengan kesanggupannya. Orang bekerja bukan karena ingin mencukupi nafkah tapi karena panggilan hati.Oleh karena itu tiap orang memberikan sumbangan sesuai dengan kesanggupannya.Pada saat ini tingkat produksi menjadi berlimpah, dan pendapatan tidak lagi berupa upah, melainkan bergantung pada keperluan manusia yang bersangkutan.

Dan max webber lebih membedakan pemikirannya dari hegel dengan mencetuskan idenya dengan nama Dialektika Materialisme. Filosofi Marxisme, secara keseluruhan oleh pengikutnya disebut dialektika materialisme. Disebut dialektika karena berasal dari filsafat Hegel tentang dialektika sebagai proses perubahan. Proses dialektika itu bermula dari adanya thesis (posisi pertama), kemudian muncul antithesis (posisi kedua), dan akhirnya synthesis (kebenaran), ia kemudian akan menjadi thesis baru yang meneruskan proses tersebut sampai akhimya mencapai kebenaran mutlak, dan pada akhimya harus juga berhadapan dengan negasi baru sesuai dengan zamannya. filsafat dialektika yang dikembangkan Hegel bersifat abstrak. Proses tersebut, menurut Hegel hanya ,ada dalam cita-cita serta pikiran,saja. Inilah yang kemudian dibalik oleh Marx. Menurut Marx, yang tergambar dalam cita-cita (the ideal) itu tidak lain dari dunia nyata (material world) yang direfleksikan oleh pikiran manusia, dan dipindahkan menjadi buah pikiran. Dengan kata lain, pikiran atau cita-cita itu menurut Marx dibentuk oleh materi atau benda. Manusia harus hidup dulu baru ia dapat berpikir. Oleh sebab itu, bukan pikiran atau cita-cita yang mengubah sejarah melainkan cara berproduksi .

Marx tertarik pada hokum dialektikanya hegel karena ada unsur kemajuan melalui konflik dan pertentangan. Meskipun marx menolak proses dialektika, lalu dia balik dialektikanya hegel dengan dialektika materi. Unsur kemajuan dan konflik yang dia temukan dalam karya Hegel  digunakannya untuk menerangkan proses perkembangan masyarakat  melalui revolusi. Kendati Marx tidak memberikan penjelasan yang tuntas namun Marx telah meletakkan hukum social yang kemudian hari disempurnakan oleh Lenin, yang menyimpulkan bahwa materialisme dialektis merupakan hukum dalam revolusi sosial yang secara pasti berkembang kearah masyarakat komunis, jadi masyarakat komunis niscaya sampai lewat dialektika.Dengan  hukum dialektika masyarakat kapitalis  telah mengandung dalam dirinya sendi-sendi kehancuran. Dan dengan proses revolusi proses menuju masyarakat komunistis dapat segera di capai.

Inti dalam materialisme dialektika secara sederhana dapat kita paparkan sebagai berikut,  Marx mengambil dua unsur dari gagasan Hegel  yaitu gagasan mengenai pertentangan  antara segi segi yang berlawanan, dan yang kedua dapat terus berkembang tanpa henti. Jika menurut Hegel dialektika itu  berlaku dalam dunia abstrak maka Marx menandaskan hukum dialektika itu berlaku di dalam dunia materi, sesuai dengan pandangannya ini Engels menyebutnya materialisme. Marx mengatakan bahwa dalam setiap benda atau keadaan, dalam tubuhnya sendiri menimbulkan  segi segi yang berlawanan, bertentangan satu sama lain, dan ini dinamakan kontradiksi. Dari pergumulan inilah nantinya timbul keseimbangan dan dikatakan bahwa benda atau keadaan itu telah dinegasikan.[1][5]

Menurut Engels, “ materi bergerak dalam siklus abadi, yang melengkapi perjalanannya dalam sebuah periode yang sangat panjang, dan jika dibandingkan  dengan tahun-tahun bumi kita tidak ada apa-apanya; didalam sebuah siklus dimana periode kehidupan organik dengan prestasinya yang tinggi- kesadaran diri-merupakan sebuah ruangan sebagaimana suatu yang relatif kecil dam sejarah kehidupan dan kesadaran diri; seperti sebuah siklus dimana partikularia membentuk eksistensi materi- baik ia matahri maupun nebula, suatu partikularia binatang atau spesies binatang, kombinasi kimia dekomposisi-adalah sama-sama dalam transisi ; dalam sebuah siklus dimana tidak ada yang abadi kecuali materi yang bergerak secara abadi dan hukum-hukum gerakannya dan perubahannya.

Sesuai dengan hukum dialektika, gerak itu terus terjadi  sehingga setiap kali ditimbulkan suatu negasi yang lebih baru  setiap negasi dianggap sebuah kemenangan  dan yang baru atas yang lama, suatu kemenangan yang dihasilkan atas kontradiksi-kontradiksi dalam tubuhnya sendiri. Jadi setiap objek atau keadaan atau benda  melahirkan benih benih untuk penghancuran  diri sendiri, untuk selanjutnya diubah dengan sesuatu yang lebih tinggi mutunya. Negasi dianggap suatu penghancuran diri yang lama , sebagai hasil dari perkembangan sendiri yang diakibatkan oleh  kontradiksi-kontradiksi intern. Jadi setiap fenomena bergerak dari taraf yang rendah menuju ketaraf yang lebih tinggi, bergerak dari keadaan yang sederhana menuju ke-keadaan yang lebih kompleks.dengan tercapainya negasi yang tertinggi (masyarakat komunis), maka selesailah proses dialektis.

Berkaitan dengan penjelasan hukum dialektika, Tan Malaka menerangkan dalam Madilog (Materialisme, dialektika, logika) dengan membedakannya dengan logika yang berisi hukum berpikir logis.Logika adalah metode berpikir untuk menetapkan suatu identitas.Dimana wilayah kerja logika adalah ketika berhadapan dengan satu persoalan yang sederhana yang hanya membutuhkan jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’.Dimana logika ‘ya’ adalah ‘ya’ dan ‘ya’ adalah “bukan tidak”.Hukum keduanya tidak bisa dicampuradukkan. Hukum yang lazim dipakai logika dalam pengertian ini adalah A = A. Sedangkan A bukan non A (tidak A).

 

 

Beberapa hukum pokok dialektika juga diutarakan Tan Malaka dalam beberapa persoalan berikut contohnya dalam kehidupan sehari – hari, yaitu :

  1. Hukum dialektika selalu berkaitan dengan waktu.
  2. Hukum dialektika selalu berkaitan dengan perpaduan di luar dirinya.
  3. Hukum dialektika selalu berkaitan dengan hukum kontradiksi.
  4. Hukum dialektika selalu berkaitan dengan gerak.

Melawankan hukum dialektika idealis milik Hegel dengan dialektika milik Karl Marx dan Engels, Tan Malaka tampak menaruh keberpihakan jelas terhadapnya.Keberpihakan yang sangat ideologis sehingga tampak sebagai penjabaran dogma secara rasional, tanpa kritisisme tertentu.Disebutkannya, bagi Marx Dialektika itu bukanlah semata-mata hukum gerakan pikiran sebagai cermin realitas, melainkan hukum kebenaran berpikir ketika bertitik tolak dari benda yang sebenarnya.Adanya hukum pertentangan dan perpaduan sendiri juga diakui oleh Marx dan Engels, cuma dalam pengertian sebagai perjuangan tanpa damai dua benda nyata, pertentangan dua kelas dalam masyarakat.Pertentangan dalam masyarakat itu antara kelas yang berpunya yang ditentukan oleh corak produksi masyarakatnya.Dengan adanya kemajuan teknik dalam corak produksi masyarakat yang membuat orang kaya dan berkuasa semakin bertambah kaya dan kuasa.Sedangkan di pihak yang miskin dan tak kuasa semakin terpuruk dalam lembah yang miskin dan tak ada kuasa.Perpaduan baru sintesis ini berupa “hak milik bersama” atas alat-alat produksi yang menghasilkan bagi “kemakmuran bersama”.Sistesis inilah yang kemudian membayang dalam otak sebagai suatu yang bertolak dari realitas objektif (materialisme).

KETERASINGAN

Karl Marx memopulerkan intilah elienasi dalam karyanya “Economic and Philosophical Manuscript” tahun 1844 sebagai penjelasan atas keterasingan seseorang dari sifat sejati kemanusiaan mereka.  Pada dasarnya manusia adalah mahluk kreatif yang menciptakan bentuk dari material yang mana mereka dapat mewujudkan jati diri mereka ke dalam apa yang mereka buat. Dalam masyarakat pra-kapitalis manusia adalah utuh, memiliki otoritas penuh atas diri mereka sendiri. Mereka menciptakan barang-barang untuk mereka gunakan sendiri untuk memenuhi kebutuhan mereka atau mereka perjual-belikan secara adil.

Namun, di dalam masyarakat kapitalis, menurut Marx, mereka tidak memiliki keinginan sendiri dan tdak bisa terhindar untuk menjual tenaga mereka. Atas kondisi inilah Marx mengatakan bahwa mereka telah teralienasi dalam empat hal yang mendasar dari sifat sejati manusia, yaitu :

  1. Kaum buruh teralienasi dari aktifitas produktif mereka. Para buruh tidak bekerja sesuai dengan keinginan dan tujuan mereka sebagai manusia untuk bekerja dan memperoleh suatu produksi yang berguna bagi mereka, akan tetapi aktifitas produktif yang mereka lakukan hanya berguna bagi kaum kapitalis (borjuis). Kaum borjuislah yang menentukan apa yang harus dikerjakan oleh kaum buruh, apa yang harus mereka produksi dan keuntungan hasil produksi menjadi milik para pemegang kapital.
  2. Kaum buruh teralienasi dari produk. Kepentingan pemegang kapitalis benar-benar memisahkan hak Buruh atas produk yang diproduksinya. Jika buruh bekerja kepada majikanya, ia tetap harus membayar atas produk yang dibuatnya. Karna hasil produksi merupakan hak milik kapitalis.
  3. Buruh teralienasi dari sesama buruh. Dalam sistem kapitalisme, para pekerja tidk diperbolehkan untuk saling bekerja sama dengan pekerja lainya, sehingga mereka tidak dapat saling berinteraksi satu sama lain meskipun berada di tempat yang sama dan berdekatan. Kapitalis membuat para buruh saling berlomba sejauh mana mereka berproduksi. Situasi demikian menyebabkan timbulnya permusuhan diatara para pekerja yang akan menguntungkan para kapitalis. Karena bagaimanapun juga pekerja akan kembali kepada majikanya dan keuntungan pun kembali kepada kaum kapitalis.
  4. Keterasingan para buruh dari poteni kemanusiaan mereka sendiri. Ineraksi para pekerja dengan sesamanya dan alamnya terkontrol secara ketat oleh kapitalis, sehingga potensi diri mereka menjadi terkungkung oleh sistem kapitalisme. Mereka dicetak sebagai mesin produksi yang hanya menguntungkan kapitalis tanpa memikirkan bagaimana kondisi jiwa mereka dan kualitas pekerja sebagai manusia.

Adanya alienasi pada sistem kapitalisme menimbulkan perbedaan dan sekat yang sangat kentara antara majikan dan buruh. Keterasingan ekonomi ini berkaitan dengan bentuk-bentuk keterasingan lainya. Pekerja harus tunduk kepada majikan, yang miskin harus tunduk kepada yang kaya, dan yang kaya pun harus tunduk kepada kekuasaan negara yang sebenarnya telah terorganisir sedemikan rupa. Dngan demikian, yang terjadi sebenarnya adalah terdapat kepentingan-kepentingan ekonomi pada tubuh pemerintahan kapitalisme. Keterasingan hanya dapat dihilangkan dengan menghapuskan konsep kepemilikan pribadi.

 

 

 

EVOLUSI SOSIAL

 

Karl Marx adalah salah satu contoh dari pengembang dibidang sosial. Teori evolusi merupakan bentuk dari sebuah proses yang membebaskan penganiayaan manusia berdasarkan seleksi alam. Penyimpulan ini dikarenakan banyaknya masyarakat kelas pekerja yang akan tunduk pada kaum borjuis. Tetapi lagi-lagi dengan melalui sebuah proses yang lama namun pasti (evolusi), kaum proletar akan mendapatkan hak-hak hidupnya.

 

Selain itu dalam ranah agamapun teori evolusi bukanlah menjadi sebuah momok yang seolah-olah selalu kontradiksi. Salah seorang Apostel1 (rohaniawan Kristen) yang taat bernama Francis Collins menyetujui dan tertarik dalam mengkaji teori evolusi sebagai sebuah teori ilmiah. Dan bukan berarti beliau tidak lagi menjadi seorang Apostel yang taat. Tetapi beliau mengerti dan mau untuk membedakan kedua ranah yang saya sebut tadi. Tetapi sayangnya saat ini saya belum menemukan kalangan dari agamawan yang menelaah teori ini sebagai sebuah bentuk pengetahuan yang layak.

 

FAKTOR-FAKTOR POKOK KEHIDUPAN MANUSIA

Didalam pemikirannya, Karl Marx membagi faktor hidup masyarakat menjadi empat faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah :

  1. Tenaga produktif

Menurut Mark, faktor tenaga produktif dibagi menjadi tiga, yaitu alat-alat kerja, orang yang bekerja, pengalaman-pengalaman produksi atau teknologi. Susunan tersebut sangat logis karena menurut Marx manusia baru menjadi manusia asal ia mulai menciptakan alat-alat sehingga alat-alat di tempatkan pada tempat pertama.

  1. Hubungan produksi

Merupakan hubungan-hubungan tertentu yang tidak boleh tidak dan yang tidak tergantung pada kemauan manusia. Hubungan-hubungan produksi ini sesuai dengan tingkat perkembangan (tertentu) tenaga-tenaga produksi materiilnya. Jadi hubungan-hubungan ini adalah hubungan-hubungan antar manusia yang bekerja. Hubungan-hubungan sebagai akibat dari cara-cara kerja tadi. Contohnya : Sekelompok orang menangkap ikan dengan perahu di laut dengan alat-alat tertentu. Dalam proses ini ada orang yang memberi komando, ada yang memegang kemudi, dan seterusnya. Apabila sudah ada alat kerja dan cara produksi yang tertentu, hubungan-hubungan antara orang yang bekerja terjadi dengan sendirinya,dan tidak lagi tergantung dari kemauan individu-individu yang bekerja. Inilah tahap yang kedua hubungan-hubungan produksi ini bersama alat-alat produktif tadi merupakan basis atau dasar.

  1. Bangunan atas hukum atau politik

Merupakan keadaan-keadaan yang nyata, hubungan-hubungan real, lembaga-lembaga. Menurut Marx lembaga-lembaga itu secara tidak bisa tidak diakibatkan oleh hubungan-hubungan produksi. Contohnya : Hukum feodal yang mengikat petani pada tanah-tanahnya merupakan akibat dari tenaga-tenaga dan hubungan-hubungan produksi yang waktu itu berlaku di masyarakat.

  1. Bentuk-benruk kesadaran sosial

Tingkat ke empat dan terakhir ialah apa yang disebut bentuk-bentuk kesadaran sosial, segala macam agama, filsafat, moral, seni, ajaran-ajaran sosial, dan sebagainya yang merupakan isi dari kesadaran masyarakat.

 

MEKANISME PERUBAHAN SOSIAL

 

Teori perubahan social dan budaya Karl Marx yang merumuskan bahwa perubahan social dan budaya sebagai produk dari sebuah produksi (materialism), sedangkan Max weber lebih pada system gagasan, system pengetahuan, system kepercayaan yang justru menjadi sebab perubahan.

Mekanisme Perubahan Sosial: Perspektif Materialistik dan Idealistik

Perspektif Materialistik

 

Perubahan sosial bisa disebabkan oleh faktor material baik berupa faktor-faktor ekonomi atau pun teknologi yang berhubungan dengan produktifitas ekonomi. Teknologi baru maupun moda produksi ekonomi mendorong perubahan pada aspek interaksi, organisasi sosial, kultur, kepercayaan, dan norma-norma. Karl Marx sebagaimana dijelaskan oleh Harper (1989) menganggap bahwa moda produksi (force of production) merupakan pembentuk sistem sosial dan penyebab perubahan sosial. Relasi produksi membentuk struktur masyarakat yang ditentukan oleh penguasaan moda produksi. Marx melihat perubahan masyarakat di Eropa yang berubah dari feodal menuju masyarakat kapitalis industri memiliki  dua konsekuensi yaitu: 1) terbukanya kesempatan kerja pada pabrik-pabrik di kota, dan 2) terciptanya kelas-kelas ekonomi baru. Melihat kenyataan ini Marx berargumentasi bahwa perubahan terjadi akibat kontradiksi antara moda produksi dengan relasi sosial produksi.

Selain Marx, William Ogburn juga memberikan argumentasi bahwa perubahan material (teknologi) lebih cepat berubah dibandingkan perubahan aspek-aspek nonmaterial (ideologi, norma, nilai). Perbedaan akselerasi perubahan antara aspek material dan nonmaterial tersebut menyebabkan cultural lag dalam masyarakat. Mengambil gambaran perubahan yang disebabkan oleh adopsi teknologi di Amerika, Ogburn  mengatakan bahwa faktor material merupakan penyebab utama perubahan.

Selanjutnya Harper (1989) menjelaskan bahwa teknologi dapat menjadi penyebab perubahan karena 3 hal: 1) Inovasi teknologi meningkatkan alternatif-alternatif dalam masyarakat; 2) Teknologi baru mengubah bentuk interaksi antar orang; 3) Teknologi baru menciptakan permasalahan yang harus diselesaikan. Namun demikian terdapat keterbatasan bahwa teknologi merupakan penyebab perubahan sosial karena perubahan sosial dapat terjadi tanpa perubahan yang bersifat teknis. Perubahan pada aspek teknologi bisa saja tidak menyebabkan perubahan pada semua aras dalam masyarakat[1].

 

Perspektif Idealistik

 

Perspektif idealistik dilihat sebagai ide, nilai-nilai, dan ideologi yang menyebabkan perubahan. Ide terdiri atas pengetahuan dan kepercayaan-kepercayaan, nilai merupakan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan tidak diinginkan, dan ideologi dipahami sebagai kombinasi antara kepercayaan dan nilai untuk memberikan legitimasi maupun justifikasi terhadap perilaku manusia (misalnya demokrasi, kapitalisme, sosialisme). Ahli sosiologi yang menyatakan bahwa perubahan sosial disebabkan oleh perubahan pada aspek idealistik adalah Max Weber (1905) dan Guenter Lewy (1974)[2].

Weber berpandangan bahwa kapitalisme industri tidak bisa hanya dilihat sebagai perubahan yang disebabkan oleh aspek material seperti yang disebutkan Marx. Dengan tidak menolak pendapat Marx, menurut Weber, pembangunan yang sifatnya teknis tidak hanya terjadi di negara Barat tetapi juga merambah India dan Cina (sebagai negara Dunia Ketiga), hal ini mengindikasikan bahwa kemajuan (pembangunan) yang terjadi di Barat sebenarnya disebabkan oleh sistem nilai masyarakatnya yang berinteraksi dengan aspek material.

Pemikiran Weber bertolak dari fenomena empiris, bahwa hubungan terus-menerus yang terlihat jelas di periode awal kapitalisme, agen penting (pimpinan perusahaan, tenaga teknis dan komersial terlatih, tenaga kerja terampil) cenderung didominasi oleh orang Protestan. Weber mengingatkan bahwa di dalam Protestantisme terdapat berbagai sekte terpisah yang berbeda kekuatan pengaruhnya dalam menggerakkan etos kapitalis. Cabang-cabang Protestantisme (Calvinisme, Methodisme, Baptisme) berorientasi pada kehidupan duniawi yang mengkombinasikan kecerdasan berbisnis dengan kesalehan agama. Di dalam kombinasi ideologi Protestan sumber kapitalisme ditemukan. Begitu semangat kapitalisme tumbuh, maka struktur hubungan sosial pun akan berubah[3]. Sejalan dengan Weber, Lewy (1974) tidak mengabaikan aspek material sebagai keadaan yang menciptakan perubahan, tetapi perubahan tidak bisa dipahami tanpa menjelaskan pengaruh dari nilai-nilai serta kebijakan agama.

Dalam perspektif idealistik, perubahan setidaknya dipahami melalui 3 hal: 1) Legitimasi sebuah keinginan untuk berubah; 2) Ideologi menadi basis yang mampu menjelaskan solidaritas sosial sebagai penyebab perubahan yang penting; 3) Ide dan nilai mampu menjelaskan kesenjangan antara ideal dan faktual sebagai penyebab perubahan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://febasfi.blogspot.com/2012/11/pokok-pokok-pemikiran-karl-marx.html

http://lauraerawardani.blogspot.com/2014/04/dialektika-dan-materialisme-historis.html

http://pergerakan07.blogspot.com/2012/05/latar-historis-pemikiran-karl-marx.html

Nurhadi, Muflich. 1998. Teori Sosiologi Klasik. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2010. Teori Sosiologi. Bantul : Kreasi Wacana.

 

 

Powered by WordPress | Theme: FreeUsenext